Kamis, 12 Juli 2012

BEDAH BUKU BIOGRAFI "AE KAWILARANG UNTUK SANG MERAH PUTIH"

Bedah Buku Biografi “AE Kawilarang Untuk Sang Merah Putih” ##Biografi kisah seorang Prajurit Militer, ditulis Ramadhan KH, diterbitkan “Pustaka Sinar Harapan,” 1988, yang menuturkan pengalaman seorang Prajurit Profesional mantan KNIL yang kemudian menjadi TNI Pembela Merah Putih. Buku setebal 308 halaman ini bersampul warna coklat muda dengan gambar foto AE Kawilarang yang mengenakan Pakaian Dinas Upacara (PDU) tahun lima puluhan dengan tanda pangkat Kolonel. ##Ia dilahirkan di Meester Cornelis, Jatinegara tanggal 23 Februari 1920, dibesarkan disuasana Kolonial yang kemudian diguncangkan kedatangan Jepang. Waktu usia 12 tahun sudah tertarik belajar atau memperhatikan contoh-contoh perang kecil dan sering membaca buku tentang “gerilya” dan “antigerilya.” Masa mudanya dihabiskan di Kota Bandung dan tinggal di Jl. Papandayan (sekarang Jl. Gatot Subroto), bersekolah di HBS V (Hogere Burger School=SMP dan SMA selama lima tahun). ##Ibunya ialah Netsy Betsy Mogot dan ayahnya AHH Kawilarang juga seorang tentara KNIL atau tentara Hindia Belanda, dengan pangkat terakhir Mayor, tahun 1943 ditangkap oleh Jepang, dimasukan dalam kamp tawanan perang. Tanggal 18 September 1944, Kapal Junjo Maru yang mengangkut tawanan perang dari Tanjung Priok ke Padang, dekat Muko-Muko kapal itu ditorpedo oleh kapal selam sekutu yang tidak mengetahui kalau kapal tersebut mengangkut tawanan perang. “ZAMAN BELANDA” ##Tahun 1940 AE Kawilarang (AEK), masuk CORO (Corps Opleiding Reserve Officieren=Korps Pendidikan Perwira-Perwira Cadangan), selama sembilan bulan, kemudian tahun 1941 masuk KMA (Koninklijke Militaire Academie= Akademi Militer Kerajaan). Lulus KMA menjadi komandan Peleton Pasukan KNIL di Magelang, awal tahun 1942 AEK ditempatkan di Batalyon Depot Bandung sebagai Instruktur. Setelah Belanda menyerah kepada Jepang, AEK menjadi tawanan perang dan disekap di kamp Depot tetapi kemudian berhasil melarikan diri. ##Mata pelajaran yang ia sukai selama menjadi kadet KMA adalah mata pelajaran khas militer seperti pendidikan infanteri, serangan, pertahanan, taktik mendekati musuh, memperlambat pertempuran sambil mundur, perang gerilya dan anti gerilya, menembak, latihan mars jauh dan cepat, halang-rintangan, anggar sabel dan floret, senapan mendapat angka bagus serta mendapat predikat satu-satunya lulusan KMA yang mendapat predikat “ahli segala senjata” (meester ini alle wapens). “ZAMAN JEPANG” ##Selama pendudukan Jepang, AEK berpindah-pindah tempat kerja, pertama bekerja di Perkebunan Serpong, kemudian pindah ke Sungai Gerong, Plaju, mendaftar untuk bekerja sebagai ahli analis tetapi dipekerjakan sebagai penerjemah, tidak lama kemudian berpindah lagi karena disamping merasa tidak senang akan pekerjaannya, AEK tidak senang melihat kekejaman orang-orang Jepang tehadap bangsa sendiri. Ia diterima bekerja di Pabrik Karet Vulkanisir Kedaton, sejak di Sungai Gerong tumbuh dalam dirinya jiwa nasionalisme dan makin membenci Jepang dengan segala janji-janjinya yang tak bisa dipercaya. ##Pada suatu hari naas baginya, pada bulan November 1943, sewaktu masih tidur, pagi-pagi Kenpetai menangkap AEK dalam suatu razia menangkapi orang-orang Menado, Ambon, Indo dan lainnya. Sebagai tawanan diperiksa dan disiksa, untungnya pemeriksaanya Cuma sekali dan diperbolehkan kembali bekerja ditempat semula. ##Menemukan kembali ketenangan bekerja dan mulai banyak membaca tulisan-tulisan via Jawa Hokokai, seperti pidato Bung Karno, sehingga secara pelan tapi pasti rasa cinta tanah air berakar dihatinya. Tapi celakanya pada bulan Juni 1944 dilakukan kembali razia terhadap orang-orang Menado dan Ambon yang sudah biasa menjadi sasaran, kali ini yang melakukan Keimubu (Polisi). Kembali ditahan dan mendapat siksaan habis-habisan selama 40 hari lamanya. “PERANG KEMERDEKAAN” ##Guncangan terjadi di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, diketahui keesokan harinya dari mulut ke mulut, lalu melalui radio dan AEK sudah siap dengan rasa cinta tanah air yang tumbuh sejak di Sungai Gerong, Plaju. Ia sudah banyak mendengar tentang kemerdekaan, mengenai Indonesia Merdeka, bergabunglah ia kedalam PKR (Penjaga Keamanan Rakyat), Ia terpilih sebagai Wakil Ketua PKR di daerah pabrik tempat bekerjanya. ##Dengan secarik kertas surat yang menyebutkan bahwa AEK dari PKR, tanggal 8 Oktober 1945 naik Kapal Motor ke Jakarta, sesampainya di Jakarta ia mencari rumah familinya keluarga Kawilarang, disana ia bertemu dengan Daan Mogot, yang mengingatkan ia bahwa orang Manado, jangan berbuat yang bukan-bukan. Awas hati-hati! Kita mesti benar-benar menunjukan, dipihak mana kita berada. Tapi kemudian Daan Mogot gembira ketika AEK memperlihatkan lencana merah putih di kemejanya, dan menganjurkan agar pergi ke Jl. Cilacap no. 5 pusat pertemuan pemuda-pemuda yang ingin jadi tentara di kantor Departemen Keamanan yang juga markas BKR (Badan Keamanan Rakyat) Karesidenan Jakarta. ##Mayor Daan Mogot (famili AEK dari garis Ibu) Direktur KMA Tangerang, kemudian gugur sebagai pahlawan kesuma bangsa dalam pertempuran Lengkong yang terkenal pada tanggal 25 Januari 1946, bertempur dengan gagah berani melawan pasukan Jepang untuk memperebutkan gudang senjata, gugur bersamanya Letnan Soebianto, Letnan Soetopo dan 33 Taruna KMA Tangerang. ##Dengan semangat perjuangan untuk membela merah putih yang menyala-nyala, AEK mecatatkan diri ke kantor Departemen Keamanan di Jl Cilacap Jakarta untuk menjadi tentara. Dan mendapat petunjuk untuk menghubungi Pak Oerip Soemohardjo di Jogyakarta. Selepas mencatatkan diri ia mencari mereka yang berkumpul di Markas KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) Sebuah Badan Perjuangan yang berintikan orang-orang Menado. ##AEK merasa perihatin melihat situasi saat itu yang menimpa orang-orang Menado atau Ambon, karena dicurigai sebagai antek Belanda. Dimana di banyak tempat sering terjadi anarkis, dengan tuduhan mata-mata, anti merah putih, tapi yang menyedihkannya ialah ada yang dituduh hanya karena orang Menado, Ambon atau beragama kristen. Sehingga KRIS tergerak untuk menyelamatkan orang-orang Menado diberbagai pelosok untuk dipindahkan ke kota-kota besar. ##Jadi anggota KRIS saja atau memberitahukan saja bahwa kita pro merah putih itu belum cukup menunjukan kenasionalisan kita, orang Menado atau juga orang Ambon harus membuktikan kenasionalisan kita di medan pertempuran, jika bertempur harus berada dibarisan paling depan, berani mati dan berani berkorban untuk merah putih ##Sebelum ke Jogyakarta AEK singgah dulu di Bandung menjenguk ibunya yang saat itu tinggal di belakang RS. Borromeus, untuk meminta restu bundanya, baru setelah itu pergi ke Jogyakarta untuk menemui Pak Oerip yang memimpin MBT-TKR (Markas Besar Tertinggi-Tentara Keamanan Rakyat). Dan beliau menyuruh ke Purwakarta dengan dibekali surat, tanggal 25 Oktober 1945 menemui Mayjen Didi Kartasasmita Komandan Komandemen Jawa Barat, yang membawahi tiga Divisi, yaitu Divisi I Banten, Divisi II Cirebon-Jakarta-Tangerang-Bogor dan Divisi III Priangan-Sukabumi-Cianjur. ##AEK ditetapkan sebagai Wakil Seksi II, pekerjaannya hilir mudik Purwakarta-Jakarta untuk menyelesaikan masalah-masalah yang kebanyakan menyangkut soal internasional dan belum mendapat pangkat. Tanggal 11 Desember 1945 dipanggil Mayjen Didi dan mengatakan sudah waktunya you dapat pangkat, Kapten bersama Mokoginta dan Kusno Utomo. Tapi sepuluh menit kemudian ketika diketahui kalau AEK adalah lulusan KMA satu kelas lebih tinggi, pangkatnya dinaikan menjadi Mayor atas persetujuan Menteri Pertahanan Amir Syarifudin. “BERGERILYA DI JABAR” ##Januari 1946 AEK diangkat menjadi Kepala Staf Resimen Bogor/Divisi II yang bermarkas di Dramaga, sebelah barat Kota Bogor. Tugas ini adalah pengalaman pertamanya dalam kesatuan TKR, Komandan Resimennya ialah LetKol Hidayat Sukarmadidjaja. Membawahi 4 Batalyon, Batalyon I Komandannya Mayor Ibrahim Adjie, Batalyon II Komandannya Mayor Toha dan Batalyon III Komandannya Mayor Dasuki Bakri dan Batalyon IV Komandannya Abing Sarbini. ##Keadaan di Bogor ganjil sekali, Tentara Sekutu (Inggeris) yang telah mendarat dengan Pemerintah RI bisa mengadakan hubungan, Polisi kita juga masih bisa mengatur ketertiban masyarakat, mereka bersama Pemerintah setempat sering kali mengadakan rapat dengan Tentara Sekutu, yang hasilnya selalu diteruskan kepada TKR. Sementara diluar ruang rapat atau dilapangan Tentara kita kucing- kucingan dengan Tentara Sekutu, saling mencegat dan saling menembak. ##Di Pondok Gede, Cigombong dekat Lido ada sebuah Kamp Tentara Jepang yang memiliki gudang senjata, AEK bersama pasukannya dan Lasykar Pejuang pada waktu itu sedang berusaha mendapatkan senjata dari Tentara Jepang. Dan Jepang pada pertengahan bulan April 1946 meninggalkan kamp tersebut, tetapi senjata yang diinginkan tak didapat, Jepang hanya mau menyerahkan beberapa pucuk senjata pistol saja sedangkan daftar selengkapnya diberikan kepada Sekutu. ##Alih-alih mendapat senjata, AEK malah mendapat masalah ada seorang Tentara Australia yang mencari kriminal perang Jepang dalam PD II ditembak oknum pasukan kita pimpinan Letnan Bustomi, yang salah satu anggotanya ada orang Jepang. Sehingga pemerintah Australia yang sebenarnya pro RI tidak senang ada anggota AUnya dibunuh. Dimana menurut laporan resmi ybs dihadang orang Jepang dibantu beberapa orang Indonesia. AEK tidak setuju adanya laporan seperti itu, tapi akhirnya orang Jepang itu diserahkan melalui Komandemen untuk diteruskan ke Sekutu, tetapi tidak kesampaian karena ybs bunuh diri dalam tahanan. Dan dokumen yang dibawanya oleh AEK diserahkan ke Mayjen Didi Kartasasmita dan Residen Bogor Barnas Wiratanuningrat untuk dikembalikan kepada Australia. ##Sementara itu disekitar Kamp Tentara Jepang telah ditemukan guci harta karun, setelah dibuka berisi emas permata dan berlian, AEK hendak menyerahkan harta karun kepada Residen Bogor, tetapi beliau meminta mengirimkannya kepada Kementerian Dalam Negeri. Kemudian guci harta karun itu diterima oleh Mr. Sumarman Sekretaris Kementerian Dalam Negeri. ##MBT di Jogyakarta melalui suratnya pada bulan Februari 1946 menjelaskan bahwa TKR (Tentara Keamanan Rakyat) kepanjangannya berubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, dua minggu kemudian berubah lagi menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) dan akhirnya berubah menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia), yang menurut AEK, TNI adalah sebuah nama yang paling cocok. ##April 1946 AEK diangkat menjadi Komandan Resimen Bogor menggantikan LetKol Hidayat Sukarmadidjaja dan pada bulan Mei 1946 pangkatnya naik menjadi LetKol, sementara itu markas Resimen sudah pindah ke Cicurug , dikarenakan musuh maju terus dan TKR terdesak. Tetapi penghadangan terhadap Sekutu dan KL, KNIL-NICA terus dilakukan. Dimana mereka sering dihadang di jalan besar, Pasukan kita menyerang dari balik bukit kecil atau dari ketinggian pinggir jalan. ##Komandemen Jawa Barat pada bulan Mei 1946 dilikuidasi dan dibentuklah Divisi Siliwangi pada tanggal 20 Mei 1946 dengan Komandan pertama Mayjen A.H. Nasution, pemberian nama Siliwangi itu diilhami sejarah kebesaran Jawa Barat dimasa lampau dibawah Pimpinan Prabu Siliwangi yang sangat tenar. Dan Resimen Bogorpun pada bulan Juni 1946, sesuai susunan organisasi militer yang baru dibentuk Brigade II yang diberi nama Suryakencana, Raja Sunda (Pajajaran) terakhir diabad 16. ##AEK diangkat sebagai Komandan Brigade II/Suryakencana pada bulan Agustus 1946 menggantikan Letkol Edi Sukardi, dengan Kepala Staf Brigade Mayor Akil Prawiradiredja yang kemudian diganti oleh Mayor Taswin, dengan daerah operasi Bogor-Sukabumi-Cianjur, berkedudukan di Sukabumi. ##Brigade II/Suryakencana membawahi 5 Batalyon. Batalyon 6 dibawah Komandan Mayor Kusno Utomo kemudian digantikan Kapten Suyono Yudodibroto, dengan daerah operasi Cibeber-Cianjur. Batalyon 7 dibawah Komandan Kapten RA. Kosasih, dengan daerah operasi Sukabumi. Batalyon 8 dibawah Komandan Mayor Ibrahim Adjie, dengan daerah Operasi Bogor-Caringin-Puncak. Batalyon 9 dibawah Komandan Kapten Affendi, dengan daerah operasi Bogor-Caringin-Puncak (bersama Batalyon 8). Batalyon 10 dibawah Komandan Kapten Dasuki Bakri, dengan daerah operasi Rumpin-Ciampea, Kracak-Gunung Menyan. ##Disamping itu ada Batalyon Depot dibawah Komandan Kapten Kemal Idris, yang bertugas melatih Kompi-Kompi secara bergiliran dimana disetiap bulannya dilatih 1 Kompi dari tiap Batalyon bersama eks Lasykar Perjuangan yang sejak tahun 1947 dimasukan kedalam organisasi Biro Perjuangan. ##Karena di Sukabumi masyarakatnya terhitung kuat keislamannya, AEK yang beragama Kristen Protestan semula berfikir bisa jadi sebagai Komandan Brigade ada permasalahan hubungan dengan masyarakat setempat, tetapi kemudian secara pribadi tidak merasakan sesuatu gangguan apapun, karena ia mendapat bantuan dari Stafnya untuk mengatasi soal yang ada hubungan dengan masalah keagamaan ini. Malah AEK diterima baik oleh masyarakat Sukabumi dan sekitarnya, hal itu berkat jasa Kapten Sayuti Widjaya, Kepala Seksi I Brigade yang menjelaskan kepada Pondok-Pondok Pesantren serta Kyai-Kyai tentang tugas yang diembannya. Selain itu AEK memiliki hobi bermain sepakbola, sehingga disetiap ada waktu yang luang selalu menyempatkan diri bermain sepakbola di Sukabumi. ##Pasukannya di bulan April 1947 diperkuat 1 Batalyon TRIP yang baru terbentuk dan berkedudukan di Sukabumi, oleh AEK Pasukan ini ditempatkan dibawah Seksi I Brigade II/Suryakencana dibawah Pimpinan Kapten Sayuti Widjaja dan Letnan Dua Adang Ibrahim Martalegawa. Komandan Batalyon I TRIP Jawa Barat adalah Soebarna, mereka ditugaskan membantu dengan laporan hasil penyelidikan dan menjalankan tugas sebagai kurir, kemudian menjelang Aksi I, Batalyon TRIP ini ditugaskan ke front Maseng-Bogor, Gekbrong (perbatasan Cianjur), gunung Gede, dan Munjul Cibeber Selatan. ##Hal yang tidak mengenakan adalah ketika Polisi Tentara menghadapkan hasil tangkapannya yaitu seorang mata-mata Belanda, yang sudah banyak melaporkan para pejuang kita kepada TIVG (Territoriale Inlichtingen en Veiligheidup Groep = Grup Informasi Teritorial dan Keamanan), sehingga banyak pejuang yang ditangkap Belanda. Tapi karena belum pernah menghukum mati musuh diluar pertempuran, AEK berbicara dulu dengan Kepala Stafnya dan ingat kata-kata Benyamin Franklin (Presiden AS dimasa perang kemerdekaan negara tersebut), “Barang siapa meninggalkan kemerdekaan hakiki untuk mendapatkan sedikit keamanan sementaraa, tidak patut memperoleh kemerdekaan maupun keamanan.” Tidak lama kemudian memberikan jawaban kepada Polisi Tentara “tembak.” #Saat menjabat menjadi Komandan Brigade II/Suryakencana pada tanggal 21Juli 1947 terjadilah “Agresi I” atau “Aksi Polisionil I” yang dilakukan Belanda terhadap Republik Indonesia, yang kita sebut sebagai “Perang Kemerdekaan I.” Sukabumi dan daerah sekitarnya diduduki Tentara Belanda. Dan AEK memerintahkan semua Pasukannya untuk melakukan perang gerilya dan memimpinnya sampai saat diperintahkan melakukan hijrah. ##Setelah sekian lama melakukan gerilya melawan Belanda, tiba-tiba ia di bulan Februari 1948 mendengar kabar tentang adanya “perjanjian Renvile” yang memutuskan Siliwangi harus melakukan “hijrah” dan meninggalkan kantung-kantung gerilya di Jawa Barat, ia bukan main bencinya setelah mendengar kabar itu walau akhirnya bisa menguasai dirinya dan tunduk kepada perintah atasan dan Pemerintah Pusat. Tetapi menurutnya “Perjanjian Renville bukan merupakan penyelesaian, pasti ada aksi selanjutnya, walau kesudahan nantinya ia sendiri belum tahu tapi tetap menyebutkan tujuannya ialah Seluruh tanah air kita mesti merdeka dan berdaulat.” AEK sebagai Komandan Brigade II Suryakencana, menerima perintah hijrah dari Panglima Divisi Siliwangi Kolonel A.H. Nasution melalui perantaraan kurirnya. ##Brigade yang dipimpinnya melakukan “hijrah” dengan menggunakan Kereta Api dari Purwakarta ke Jogyakarta melalui Cirebon dan sebagian lagi menggunakan Kapal Laut LCT “Plancius” dari Cirebon menuju Rembang dan diteruskan menggunakan Kereta Api ke Madiun, dilanjutkan untuk kemudian berkumpul di Delanggu dan Jogyakarta. ##Lalu di daerah hijrah, Divisi Siliwangi mengadakan reorganisasi dijadikan hanya delapan Batalyon yang lengkap persenjataannya, dikelompokan dalam dua Brigade yang masing-masing terdiri dari empat Batalyon. Brigade I Komandannya Letkol Abimanyu, Wakilnya Mayor Sadikin. Komandan-Komandan Batalyonnya ialah, Mayor Sambas Atmadinata, Mayor Sentot Iskandardinata, Mayor Umar Wirahadikusumah dan Mayor Rukman. Brigade II Komandannya AEK, Wakilnya Mayor Kusno Utomo. Komandan-Komandan Batalyonnya ialah, Mayor RA Kosasih, Mayor Kemal Idris, Mayor Achmad Wiranatakusumah dan Mayor Daeng Ardiwinata, Kepala Stafnya Mayor Simon L. Tobing. ##Direncanakan bila terjadi “Aksi II” maka Divisi Siliwangi akan kembali ke Jawa Barat dengan melakukan “Long March,” bergerilya di daerah sendiri dengan batas penugasannya Brigade I di daerah sebelah Timur dan Brigade II di daerah sebelah Barat. Tetapi kemudian setelah AEK pindah tugas ke Tapanuli, mendengar kabar bahwa setelah Divisi Siliwangi menjalankan tugas operasi penumpasan pemberontakan PKI-Muso, kekuatannya menjadi 5 Brigade yang lengkap persenjataannya. “BERGERILYA DI TAPANULI-SUMATERA TIMUR” ##Akhir bulan Mei 1946 AEK mendapat Surat Keputusan dari Wakil Presiden yang juga Menteri Pertahanan ad interim Mohammad Hatta, memerintahkan segera menghadap Panglima Komando Sumatera Letjen Suhardjo Hardjowardojo, ia dipersiapkan menjadi Komandan Brigade yang sedang disusun di Tapanuli dan Sumatera Timur. ##Menurut petunjuk Bung Hatta “di Tapanuli dan Sumatera Timur” harus ada Komandan yang bukan berasal dari Jawa atau Sumatera, disana harus dilakukan pembersihan, banyak saling menyerobot dan saling melucuti, kurang disiplin dan banyak yang melakukan korupsi. Alhasil AEK merasa terpilih menjadi tukang melaksanakan pembersihan, jadilah tantangan itu diterimanya. ##Keberangkatan ke Sumatera baru terlaksana bulan Agustus 1948, naik pesawat amfibi Catalina disertai Staf yang terdiri Mayor Ibrahim Adjie, Letnan Satu Abu Amar dan Letnan Dua Hutabarat. Dalam pesawat sama ada LetJen Suhardjo Panglima Sumatera yang akan kembali ke posnya, juga ada Residen Sumatera Barat Rasyid, Mayor Akil Prawiradiredja yang akan ditempatkan di Riau dan Kapten Yusuf Romli yang akan ditempatkan di Staf Komando Sumatera. ##Pada masa revolusi, Pimpinan Angkatan Perang RI menetapkan daerah Sumatera menjadi satu Komandemen (semacam Kowilhan). Panglima pertamanya adalah Letjen (berbintang dua waktu itu) Suhardjo Hardjowardojo dan Kepala Stafnya Mayjen Sutopo. Komandemen Sumatera dibagi dalam 5 Divisi, yaitu Divisi Sumatera Selatan dbp Kolonel Simbolon, Divisi Sumatera Tengah dbp Kolonel Dahlan Jambek, Divisi Tapanuli dbp Kolonel Moh. Din, Divisi Sumatera Timur dbp Kolonel A. Tahir, dan Divisi Aceh dbp Kolonel Husein Yusuf, dengan Markas Komandemen mula-mula di Palembang, kemudian beripindah-pindah ke Lahat, Bukittinggi, Prapat dan kembali Ke Bukittinggi. ##Gerak langkah pertama bertugas di Sumatera pada bulan November 1948, ke Tapanuli untuk melerai pertempuran antara Pasukan Bejo berkedudukan di Tapanuli Selatan dengan Pasukan Malau berkedudukan di Tapanuli Utara. Akibat provokasi-provokasi yang dilancarkan para avonturir yang menghasut beberapa komandan pasukan untuk bermusuhan satu sama lain, tangkap menangkap, lucut melucuti, yang dipicu karena rebutan daerah kekuasaan atau sentimen sara yang dihembus-hembuskan pihak yang tidak bertanggung jawab, akibatnya terjadi pertarungan berkepanjangan malahan sudah menjadi seperti perang saudara. ##Saat bertugas di Sumatera terjadilah “Aksi II,” dimana sebelumnya AEK sudah menduga akan terjadi seperti itu, sehingga perintah-perintah persiapan kepada pasukannya menghadapi “Aksi II” telah dilakukannya. Belanda memulai aksinya tanggal 18 Desember 1948 dan diketahuinya ketika Angkatan Udara musuh menembaki dan membom Lapangan Terbang Pinongsari, rakyat menjadi gelisah disangkanya perang saudara berkobar kembali, padahal yang terjadi adalah serangan Belanda, AEK mengajak semua pihak “sekarang kita semua mesti bersatu melawan Belanda.” `##Sebagaimana ketika bertugas di Jawa Barat, di Sumatera Timurpun AEK disela-sela kesibukan sebagai seorang Komandan Tentara, tetap bermain sepakbola disetiap ada kesempatan seperti yang dilakukannya di Padang Sidempuan. Lainnya yang menarik sebagai Komandan Tentara dijaman Perang kemerdekaan adalah harus juga ikut memikirkan ekonomi rakyat, dimana menurutnya cara yang dianggap baik untuk memutar kehidupan dalam keadaan gerilya adalah BUMPR (Badan Usaha Mengatur Perekonomian Rakyat), yang cabang-cabangnya ada disetiap Kabupaten di Sumatera Timur. Uang yang beredar disana adalah ORIPS (Oeang Republik Indonesia Propinsi Sumatera) dan ORITA (Oeang Republik Indonesia Tapanuli) dan Uang Merah (Uang NICA). ##Terus memimpin gerilya selaku Komandan Sub Teritorial VII yang meliputi Tapanuli dan Sumatera Timur Selatan, yang dibagi dalam beberapa Sektor dengan kedudukan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan untuk menghadapi kedudukan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan untuk menghadapi perang gerilya. Sektor I Tapanuli Selatan dbp Mayor Bejo, Sektor II Tapanuli Utara dbp Mayor Liberty Malau, Sektor III` Dairi dbp Mayor Slamet Ginting, Sektor IV Sibolga Selatan dbp Kapten O. Sarumpaet kemudian diganti Mayor Maraden Panggabean. Sektor S Aek Raisan dbp Mayor Husein Lubis kemudian digantikan Letkol ALRI Simanjuntak. Disamping itu AEK juga memegang jabatan Wakil Gubernur Militer Aceh untuk Tanah Karo serta Wakil Gubernur Militer Tapanuli dan Sumater Timur Selatan. Saat itu Gubernur Militer Aceh dijabat Teuku Daud Beureuh dan Gubernur Militer Tapanuli dan Sumetera Timur Selatan dijabat dr. Ferdinand Lumban Tobing. ##Selama memimpin gerilya AEK kedudukan markasnya tidak pernah berada disatu tempat tapi berpindah-pindah, mula-mula di Meladolok, Sibunga-bunga kemudian pindah ke Pemalian/Saur Matinggi. Demikian juga kedudukan dr. Ferdinand Lumban Tobing kerap berpindah pindah namun kedua pusat kekuasaan ini selalu mengadakan hubungan yang erat. Perpindahan ini terjadi karena Belanda mengerahkan pasukan kuat untuk mencari keduanya untuk ditangkap. Bergerilya di Sumatera berbeda dengan di Jawa, di Jawa ketika bergerilya di hutan bisa ditemui banyak kampung, tetapi ketika bergerilya di hutan Sumatera jarang ditemui kampung, kalau adapun jarak satu kampung dengan lainnya berjauhan. ##Dengan medan gerilya seperti itu komunikasi atau perhubungan merupakan kendala serius, surat dari Sektor-Sektor yang dibawa kurir sering terlambat beberapa hari, 1 minggu sampai 1 bulan baru sampai ketangan AEK, maklum waktu itu kurirnya berjalan kaki, walau begitu kesatuannya memiliki pemancar yang dapat menerima berita dari PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dan dari Komando Sumatera. Namun demikian AEK sering melakukan keliling Sektor dibawah Komandonya, untuk memeriksa keadaan, memelihara moril pasukan dan melakukan penghadangan terhadap Pasukan Belanda. ##Setelah “Aksi II” berjalan selama 8 bulan, mulai pukul 00.00 tanggal 15 Agustus 1949 berlakulah “gencatan senjata.” Penghentian tembak-menembak sudah diumumkan dan diketahui kedua belah pihak yang harus ditaati. Sesudah “gencatan senjata” diterima oleh kedua belah pihak, suasana di Tapanuli berubah menjadi aman, seluruh kesatuan mematuhi perintah. AEK mendapat kabar bahwa Mayor P.E. Hendriksz, Territorial Hoofd Officier (THO) atau Perwira Teritorial dari Troepen en Territoriaal Commando Noord Soematra (Komando Pasukan dan Teritorial Soematra Oetara) di Medan, ingin bertemu. Hal itu saya rundingkan dahulu dengan Staf dan Mayor Maraden Panggabean dan sementara itu di Jakarta telah berlangsung perundingan Roem-Royen. AEK mengira “Belanda ingin mengajak melakukan local cease fire dan mengajak kerjasama memelihara keamanan, kalau ada ajakan seperti itu tentu tidak dapat dipenuhi, tapi kalau sekedar untuk bertemu dan mendengar usulannya tidak ada salahnya.” ##Pertemuan itu berlangsung pada waktu dan tempat sesuai kesepakatan, AEK didampingi Mayor Maraden Panggabean, Letnan S. Pohan, Letnan P. Hasibuan, Ajudan K. Pri bangun, dengan dikawal Pasukan berkekuatan 20 orang. Dari pihak Belanda Mayor Hendrisz dan Sersan Mayor Syahril anggota IVG (Inlichtingen & Veilighdeids Groep) yakni bagian Intel dan Sekuriti, memang di Sektor IV diantara kedua belah pihak selalu berusaha mencari data atas lawannya. ##Pada permulaan pertemuan sudah ada ajakan dari Mayor Hendriksz atas hal yang diduga sebelumnya, tetapi ajakan tersebut ditolak AEK dan sesudahnya tidak disinggung lagi, akhirnya pembicaraan diantara kedua belah pihak lebih banyak bicara mengenai kenalan dan famili. Dan ternyata istri Mayor Hendriksz adalah anak Letkol dokter KNIL Kawilarang kakak ayah AEK. ##Selanjutnya untuk daerah Sub Teritorial VII dibentuk “Panitia Bersama” di Sibolga, dimana keputusan-keputusan bersama yang dicapai Panitia tersebut diteruskan kepada semua Komandan Sektor untuk dilaksanakan. Seminggu sekali “Local Joint Committee” mengadakan rapat di Sibolga, yang dihadiri pihak Indonesia dan Belanda dan wakil KTN (Komisi Tiga Negara). Pada mulanya pokok bahasan diseputar protes atas pelanggaran-pelanggaran kedua belah pihak, tetapi sesudah itu mulai dibicarakaan juga jadwal timbang terima Pos-Pos KNIL/KL kepada TNI secara bertahap mulai dari Tapanuli Selatan sampai ke Tapanuli Utara. Untuk hal tersebut dalam pelaksanaannya AEK harus berbicara dengan Mayor Jenderal P. Scholten, Panglima Tentara dan Teritorial Sumatera Utara di Medan. “PASCA PERANG KEMERDEKAAN/SETELAH PENYERAHAN KEDAULATAN” ##Tanggal 16 Desember 1949 AEK pangkatnya naik menjadi Kolonel dan kemudian diangkat menjadi Panglima TTSU (Tentara dan Teritorial Sumatera Utara), sementara itu pasca KMB (Konprensi Meja Bundar) secara berangsur-angsur Pasukan Belanda meninggalkan Tapanuli dan pertengahan Desember 1949 seluruh Tapanuli sudah dikosongkan oleh Belanda. ##Setelah penyerahan kedaulatan, Republik Indonesia berubah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) dan nama organisasi ketentaraan berubah menjadi ADRIS (Angkatan Darat Republik Indonesia Serikat) sebagai bagian dari APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat). ##Negara Bagian Sumatera Timur (NST) yang dipimpin oleh Walinegara Tengku Mansur memiliki 4 Batalyon Keamanan (Veiligheids Batalyon) yang disebut Blauwpijpers, dbp Kolonel Djomat Purba dan wakilnya Mayor Manus Manik. Karena mereka akan di ADRISkan bersama anggota KNIL lainnya dan tahu dibawah komando TTSU, mereka menghadap AEK dan diresmikan tanggal 27 Desember 1949. Sesudah “Pengakuan Kedaulatan,” diadakan timbang terima tugas keamanan dan territorial dari Komando Pasukan Belanda di Sumatera Utara Mayor Jenderal P. Scholten kepada AEK selaku Panglima TTSU. ##Akibat terjadinya pemberontakan APRA di Bandung tanggal 23 Januari 1950 yang dipimpin oleh Kapten Westerling, di Sumatera Timur mulai terasa sikap curiga-mencurigai. AEK segera mengambil langkah-langkah pencegahan agar kejadian seperti itu tidak terjadi di TTSU. Beberapa Pasukan yang berlokasi diluar Medan ditarik, dipindahkan ke Medan dan sekitarnya, beberapa perwira KNIL dan Polisi yang tidak baik diinformasikan kepada Mayor Jenderal P. Scholten dan kemudian mengirimkan oknum-oknum tersebut keluar Sumatera. ##Dengan Surat Keputusan tertanggal 21 Februari 1950, yang ditanda tangani oleh Presiden Republik Indonesia Serikat Soekarno dan Menteri Pertahanan/PJ. Perdana Menteri Sultan Hamengku Buwono IX, AEK diangkat sebagai Panglima TTSU dan diberikan kedudukan sebagai Gubernur Militer. ##Sementara itu AEK menganggap perlu adanya “Pasukan Khusus” di TTSU, serupa Pasukan Komando (Green Berets) Inggeris waktu Perang Dunia II, maka dibentuklah 1 Kompi dbp Kapten B. Nainggolan dibulan Februari 1950. Tanda Kompi disematkan pada lengan baju dengan tulisan KIPASKO, yang artinya Kompi Pasukan Komando. Baru pada bulan April tahun yang sama diadakan pendidikan dan latihan, sayangnya dibulan itu juga AEK dipindahkan ke Indonesia Timur. Kesatuan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah Batalyon, tetapi beberapa lama kemudian latihan komando dihentikan dan Pasukan itu dijadikan Batalyon Infanteri biasa. ##Tanggal 5 April 1950 AEK dipanggil ke Kementerian Pertahanan di Jakarta, dan ditugaskan memimpin Pasukan Ekspedisi di Indonesia Timur dan Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur, setelah itu segera kembali ke Medan untuk melakukan timbang terima dengan Kepala Staf TTSU Mayor Rahmat Kartakusuma karena Penggantinya Kolonel M. Simbolon baru bisa melaksanakan tugas pada bulan Mei 1950. ##Pengalaman unik AEK selama Perang Kemerdekaan berlangsung adalah ketika menolong Tentara Belanda yang mobilnya mogok diperlintasan kereta api di Jakarta, bertemu Tentara KNIL Sam De Yong kawan semasa di KMA di depan CBZ (Centraal Burger Ziekenhuis) sekarang RSCM, di Medan bertemu Mayor P.E. Hendriksz Tentara KNIL yang ternyata adalah suami dari anak Letkol dr. KNIL Kawilarang kakak ayahnya. “KE INDONESIA TIMUR” ##AEK sebagai Panglima Ekpedisi Indonesia Timur memimpin gabungan Pasukan AD, AL dan AU, kemudian selaku Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur, dibantu Staf yang terdiri dari Kepala Staf Letkol Sentot Iskandardinata, Seksi I Kapten D. Runturambi, Seksi II Kapten Leo Lopulisa, Seksi III Kapten Sunyoto, Seksi IV Letkol D. Suprayogi, Seksi V Mayor Saleh Lahade, Kepala Kesehatan Kolonel dr. Sumarno (kelak menjadi Gubernur DKI Jakarta). ##Sebelum berangkat ke Maksassar pergi ke Semarang tanggal 18 April 1950, untuk melakukan inspeksi bersama Kolonel Gatot Subroto Panglima TT-IV/ Diponegoro terhadap pasukan yang akan diberangkatkan ke Makassar. Yaitu Brigade Garuda Mataram dbp Letkol Soeharto (kelak menjadi Presiden RI ke 2), yang terdiri dari 2 Batalyon yang dipimpin Mayor Daryatmo dan Mayor Sudjono, serta Batalyon Pasukan Seberang dbp Mayor Andi Matalatta. Dengan menggunakan kapal laut, Brigade Garuda Mataram diberangkatkan menuju Makassar dan Batalyon Matalatta menuju Pare-Pare. ##AEK kemudian memberikan brifing kepada para Perwira, Komandan-Komandan Brigade, Batalyon, Kompani (Kompi), Peleton, dengan memberikan penjelasan bahwa “tujuan gerakan kita ialah P. Sulawesi bagian selatan, daerah itu adalah pusat Negara Indonesia Timur, dibagian itu terjadi pemberontakan, yang perlu kita basmi sampai selesai.” ##Selanjutnya berangkat ke Surabaya, untuk bertemu dengan Panglima TT-V/ Brawidjaja Kolonel Sungkono, untuk menyiapkan pasukan yang akan dikirim ke Indonesia Timur, dengan kekuatan 1 Brigade dbp Letkol Suprapto Sukowati, Kepala Staf Mayor Ibnu Subroto, terdiri dari 4 Batalyon yang dipimpin Mayor Magenda, Mayor Mudjain, Mayor Wachman dan Kapten Sukertio. Dengan menggunakan kapal laut pasukan ini diberangkatkan menuju Watampone. ##Selain itu masih ada 1 Batalyon dari TT- V yang diperbantukan dbp Mayor Abdulah dengan wakilnya Kapten Broer Tumbelaka yang akan didaratkan di Bonthain dan 1 Batalyon dari TT-III/ Siliwangi dbp Mayor Sukendro sebagai Pasukan Cadangan Taktis, dimana jika Sulsel sudah aman, maka Batalyon ini akan ditugaskan ke Kupang Nusa Tenggara, dimana pasukan disana akan dipimpin oleh Letkol R.A. Kosasih yang untuk sementara menjadi Staf AEK di Makassar. ##Harapan rakyat disana terhadap TNI ialah membebaskan dari rasa tidak aman, walaupun ada Pemerintah Indonesia Timur tapi tidak memiliki alat-alat kekuasaan sendiri karena dibawah pengaruh tentara asing yang masih berkuasa, sehingga rakyat merasa gelisah atau merasa tidak ada yang melindungi. ##Yang dianggap lawan ialah Pasukan eks KNIL dan pemberontakan sudah dimulai pada tanggal 5 April 1950, yang dipimpin oleh Kapten Andi Azis. Beberapa hari setelah dilantik bersama Kompi Pasukan KNIL masuk APRIS, ia menyerang Markas-Markas TNI dan menangkap Perwira-Perwira TNI termasuk Letkol A.Y. Mokoginta. Kapten Andi Azis adalah bekas Ajudan Walinegara Indonessia Timur (NIT) Sukawati, yang juga mengancam akan membinasakan siapa saja yang akan datang dari luar masuk Pelabuhan Makassar terutama bila ada TNI dari Jawa. ##Tanggal 23 April 1950, AEK berangkat bersama Staf dengan kapal terbang amfibi Catalina ke pulau karang De Brill, tempat rendezvous dengan kapal-kapal perang ALRI tanggal 24 April 1950. Tetapi sampai disana kapal perang Hang Tuah dbp Mayor E. Martadinata, yang akan dipakai sebagai kapal komando belum tiba maka pesawat Catalina diarahkan ke Balikpapan. Baru keesokan harinya terbang ke Pelabuhan Makassar dan mendarat ditepi kapal perang Hang Tuah yang sudah berada disana, langsung memimpin Rapat Staf, para Komandan Pasukan dan Komandan beserta Staf Hang Tuah. ##Rapat menetapkan hari pendaratan pasukan tanggal 26 April 1950, Batalyon Worang yang sudah mendarat di Jeneponto diperintahkan menuju Makassar untuk menyiapkan pendaratan pasukan tanggal 26 April 1950. Batalyon Worang yang berada di Jeneponto diperintahkan bergerak ke Makassar untuk menyiapkan pendaratan pasukan. Dimana masing-masing pasukan sudah ditentukan penempatannya, Brigade Garuda Mataram di Makassar, Sungguminasa dan Maros, Letkol Soeharto ditetapkan menjadi Komandan Sektor Makassar. ##Kepada semua Komandan Pasukan dan Staf, AEK meminta agar waspada terhadap semua kemungkinan yang terjadi seperti sabotase, bijak tehadap pasukan gerilya setempat, berlaku sopan terhadap rakyat, jangan sekali-kali mengecewakan rakyat, menjaga semua jembatan untuk kelancaran perhubungan, kuasai Lapangan Terbang Mandai dan sikap terhadap KNIL-KL sesuai KMB. ##Ketika sibuk melakukan pendaratan dan pengaturan penempatan pasukan, AEK mendengar kabar bahwa RMS dbp Soumokil tanggal 15 April 1950 telah menyatakan sebagai “Negara yang merdeka dan tak mempunyai hubungan lagi dengan Negara Indonesia Timur maupun Republik Indonesia Serikat.” Kejadian itu memang sudah diduga sebelumnya, AEK tidak terlalu risau, yang penting menurutnya adalah menghadapi persoalan di Makassar, itu dulu yang harus diselesaikan. ##Tanggal 27 april 1950, AEK melakukan inspeksi ke Watampone dimana disana tidak persoalan dengan KNIL-KL, bertemu dengan Letkol Warouw yang baru datang dari Bonthain melaporkan bahwa Batalyon Abdulah telah mendarat dan keadaan disana aman, di pare-Pare memeriksa Batalyon Matalatta yang juga keadaanya aman dan sudah ada pula hubungan dengan KNIL-KL disana. ##Tanggal 3 mei 1950 diterima kabar bahwa sebagian besar anggota KNIL di Manado memisahkan diri dan membentuk Batalyon 3 Mei dbp Mayor Mengko dan wakilnya kapten Bolang, dengan komandan-komandan kompi Kapten Angkouw, Kapten Tumonggor, Kapten Pontoh, Kapten Laurens Serang. Sebenarnya kekuatan di Minahasa masih lebih dari 1 batalyon, yaitu ada Kompi Mamengko dan Kompi Mantiri. ##Batalyon Worang dan Batalyon Mudjain segera dikirim ke Sulut untuk membantu Komandan Pasukan Sulut/Malut Letkol J.F. Warouw dengan Kepala Stafnya Mayor Suharyo. Dan tanggal 10 Mei 1950 AEK terbang ke Manado. AEK berasal dari keluarga Minahasa, tetapi lahir di Jatinegara tahun 1920, Ayahnya tahun 1924 pernah ditempatkan di Manado selama satu tahun, jadi senang bisa bertemu dengan famili dari pihak ayah maupun Ibu. ##Sulut aman, kemudian dari Jakarta datang Staf Belanda Mayjen Pareira dengan beberapa Perwira, mereka mengusulkan “supaya KNIL yang berontak dan jadi APRIS kembali ke KNIL, karena KNILah yang nanti mereorganisasi dan mengatur anggotanya yang akan masuk APRIS, jika dengan berontak administrasi menjadi kacau, tidak ketahuan berapa lama masa dinasnya dan sulit urusan pensiun dan lain sebagainya.” Tetapi AEK dan Staf mengatakan “dokumen eks KNIL ditangannya jadi reorganisasi menjadi urusan kami.” ##Setelah itu orang Belanda KNIL-KL berangsur-angsur lewat Makassar dan Jakarta kembali ke Belanda. Banyak juga anggota KNIL yang ragu apa masuk APRIS atau tidak di Sulsel, tetapi ada yang ingin masuk APRIS yaitu Palyama dan kawan-kawan. Ia direncanakan menjadi komandan Batalyon eks KNIL dengan pangkat Kapten, sikapnya sungguh baik dan ia dapat memberikan penerangan yang dimengerti anggota KNIL, walau banyak juga yang termakan hasutan Soumokil dan Kolonel Schotborgh. Kapten Palyama bukan saja berjasa di Makassar tapi juga saat operasi penumpasan RMS di P. Seram, ia dapat meyakinkan orang yang bergerilya di hutan untuk kembali kepihak Indonesia. ##Peristiwa RMS merupakan peristiwa yang menyedihkan yang sebenarnya tidak perlu terjadi kalau anggota KNIL asal Ambon diberi penerangan semestinya atau kalau tidak dihasut, akhirnya Soumokil tertangkap tetapi Kolonel Schotborgh sudah pulang ke Belanda dan berhasil meninggalkan bom waktu. ##Sementara keadaan di Kota Makassar sudah mulai genting, anggota KNIL-KL yang semula dikonsinyir sekarang tidak lagi dikonsinyir di asramanya masing-masing, tiap hari seusai tugas berkeliaran di Jalan. Dan anggota KNIL asal Ambon mulai melakukan provokatif, suasana menjadi memanas terasa agak tegang. Tanggal 15 Mei pagi hari pukul 03.00 sebagian KNIL akan menyerang TNI di kota Makassar, tetapi tempat yang akan diserang belum diketahui. Pasukan TNI sudah siap, dan pada pukul 06.30 mulai terdengar rentetan peluru, balasanpun segera berdesing-desing kemudian terdengan letusan senjata diseluruh kota. Pertempuran antara TNI dengan KNIL telah terjadi, tembak-menembak gencar diseluruh kota, terutama disekitar Asrama Kiss, di Pelabuhan dan di Klapperlaan. ##Kemudian diberlakukan “cease fire,” atas upaya perwira PBB yang sudah seminggu di Makassar, tetapi malam harinya terjadi lagi tembak menembak, kemuian berhenti beberapa jam, kemudian mulai lagi begitu sterusnya, akhirnya tanggal 18 Mei diberlakukan lagi “cease fire.” KNIL dikonsinyir di Asrama. ##Permulaan Juni Pasukan APRIS sudah di Sulawesi dan Maluku Utara, jadi sudah waktunya dikirim pasukan ke Nusa Tenggara, sebagai Komandan Komando Pasukan Nusa Tenggara Letkol R.A. Kosasih, dengan Batalyon Mayor Soekendro dan Batalyon Mayor Abdulah. ##AEK kemudian ke Bali karena termasuk TT-VII Indonesia Timur, disana aman saja. Bekas KNIL di Bali tergabung dalam Pasukan Prajoda dbp Mayor Sitanala teman di CORO dan bertemu pula dengan Kapten Amini teman sekelas di KMA. ##Dari Jawa sudah dikirim lagi Batalyon Mayor Suradji dan Batalyon Pelupesy yang akan dikirim ke Maluku Selatan, sebagai Komandan Komando Pasukan Maluku Selatan Letkol Slamet Rijadi. Bulan Juli TNI sudah mendarat di P. Buru, P. Piru, P. Amahai dan P. Seram. ##Tanggal 5 Agustus AEK di Jakarta, keesokan harinya dipanggil KSAP Kolonel Simatupang, diberi tahu bahwa anggota-anggota KNIL di Makassar kembali melepaskan tembakan, saat itu pertempuran dengan TNI tengah berlangsung. Komando Pasukan Belanda di Jakarta Mayor Jenderal Scheffelaar telah menghubungi KSAP, dan meminta AEK terbang bersamanya menggunakan pesawat terbang AU Belanda ke Makassar melalui persinggahan di Surabaya. Scheffelaar disana rupanya mengadakan pembicararaan dengan Staf Marine, AEK jadi curiga, ternyata mereka mau membantu Pasukan-Pasukan KNIL. ##Scheffelaar membawa LetKol Doup pensiunan KNIL eks Komandan Marsose di Aceh sebelum Perang Dunia II, seorang perwira simpatik yang anaknya teman AEK di KMA, sekelas dengan Mokoginta. Lewat beliau bersama KNIL sepuh lainnya, bisa mempengaruhi KNIL muda asal Ambon, yang fanatik dan penuh emosi, karena sudah tidak lagi menerima perintah dari para Perwira Belanda yang sedang sibuk reorganisasi. ##Pertempuran di Makassar dimulai pukul 5 sore, dengan tiba-tiba Pasukan KNIL keluar dari Asrama KIS dan masuk di rumah-rumah Klapperlan serta membunuh beberapa anggota TNI, salah satu korbannya bernama Letnan Ekel. Lalu mereka menyebar kebeberapa jurusan, dengan Humber, Scoutcar, truk-truk berlapis baja dan Brencarrier kearah antara lain Markas Brigade Mataram. ##Komandan Sektor Makassar dan sekitarnya, Letkol Soeharto harus mempertahankan Markas dan Asramanya mati-matian, Pasukan KNIL harus mundur dari tempat itu kembali ke Komplek KNIL Asrama KIS. Sebenarnya di Makassar masih ada asrama lain tetapi mereka tidak ikut menyerang atau bertempur, Pasukan TNI tidak mengganggu mereka, malah dengan beberapa Asrama KNIL yang ada hubungan baik seperti Boomstraat tidak bermusuhan karena banyak kenalan atau famili. ##Sampai malam hari pertempuran terus berlangsung disekitar Asrama KIS, Letkol Soeharto menarik pasukan-pasukan dari luar kota untuk memperkuat diri dari serangan berikutnya, AURI di Mandai dimintakan bantuan untserangan berikutnya, AURI di Mandai dimintakan bantuan untuk melakukan tembakan dari udara, juga ALRI dimintakan bantuan tembakan dari laut. Sedangkan Pasukan Artileri dbp Letnan Jogasara diberi tugas untuk siap menembak kedudukan musuh dari Telo. ##Waktu AEK tiba di Makassar pertempuran masih terus berjalan, langsung mengunjungi front pertempuran dan bertemu dengan Letkol Soeharto yang melaporkan situasi, bahwa “sekarang KNIL tidak bisa lagi maju lebih dari 500 meter dari Asrama KIS.” Belanda di Jakarta minta untuk mengakhiri pertempuran di Makassar, sementara itu Belanda juga meminta kapal perang Kortenaer untuk datang ke Makassar guna membantu menyelamatkan serdadu-serdadu mereka. ##Mayjen Scheffelaar setiba di Makassar dijemput Kapten D. Runturambi Kepala Seksi I, tapi bukan diantarkan ke Makassar tapi ke Maros terlebih dahulu untuk bermalam disana, baru keesokan harinya diantar ke Makassar, sehingga ia mengeluh seakan menjadi tawanan. Untuk itu AEK meminta maaf kepadanya karena ia diperlakukan seperti itu. ##Yang lebih penting lagi bagaimana caranya tercapai “cease fire,” dengan syarat sesudah itu Belanda harus secepatnya menyerahkan kendaraan lapis baja karena TNI belum memilikinya, kemudian syarat lainnya supaya semua senjata diserahkan secara bertahap dan secepatnya Pasukan KNIL-KL meninggalkan Sulsel. Pembicaraan dilakukan dengan Mayjen Scheffelaar, Letkol Tijman dan 2 Perwira UNCI (United Nations Commission for Indonesia). Akhirnya “gencatan senjata” disepakati, dan kendaraan lapis baja diserahkan dan yang luka-luka dibawa ke Rumah Sakit Tentara. Mayjen Schefflaar berjabat tangan dengan AEK sambil berkata “Laat dit niet beschouwd worden al seen overgave, maar als een overeenkomst tussen twee gentlemen.” (hendaknya ini jangan dianggap sebagai sikap menyerah, melainkan sebagai suatu persetujuan antara 2 gentlemen). ##Sesudah itu keesokan harinya , tanggal 10 Agustus 1950 pagi mulai diserahkan senjata dan peluru dari pihak KNIL-KL Asrama Boomstraat kepada TNI dengan disaksikan perwira UNCI, namun menurut Letkol Tijman bahwa tidak semua senjata diserahkan masih ada yang dipegang sebagai tindakan untuk menjaga keselamatan. Dan mereka meminta Kapten Buhar Ardikusuma Komandan Batalyon agar bertanggung jawab atas keselamatan 400 anggota KNIl-KL disana. ##Tanggal 11 Agustus 1950 diadakan perundingan dengan pihak Belanda yang menginginkan penyerahan semua senjata pada saat akan berangkat dari pelabuhan, AEK tidak dapat menyetujuinya karena bila mereka masih memegang senjata mereka dapat melakukan provokasi, walaupun kendaraan lapis baja sudah diserahkan oleh pihak Belanda. AEK menginginkan semua senjata diserahkan sekarang, sehingga perundingan macet dan perwira UNCI meminta perundingan dihentikan sementara. Kemudian Mayjen Scheefflaar mendekati AEK dan berkata “Saya kenal baik dengan ayahmu, waktu kami sama-sama di Cimahi tahun 1933, Saya masih Letnan ayahmu Kapten, jadi jangan persulit saya.” Begitu bujuknya tapi AEK tetap pada pendiriannya. ##Rapat kemudian dilanjutkan dan pihak Belanda menyetujui menyerahkan semua senjata kepada APRIS, tetapi mereka masih bertanya “Apakah nanti sesudah senjata itu diserahkan tidak akan terjadi pembunuhan masal?” dan “Bagaimana dengan jaminan keselamatan pengusaha Belanda dan keluarga?,” serta “Apakah APRIS dapat menguasai tindak-tanduk semua Gerilyawan Sulsel?. ##Nampaknya mereka tidak percaya, AEK menjawab dengan santun “Saya jamin tidak akan ada apa-apa setelah senjata anda diserahkan kepada kami, asal anda jangan berbuat yang aneh-aneh.” Setelah itu perundingan dilanjutkan lagi mengenai pelaksanaan pengangkutan anggota-anggota KNIL-KL, pada tanggal 14-18-20 Agustus 1950 diangkut kapal Zuiderkruis, Oud Hoorn, Waterman dan Kota Intan dari pelabuhan Makassar. ##Penyerahan senjata dilakukan beruntun, mereka menyerahkan senjata, peluru, meriam. Selanjutnya penyerahan Kamp-Kamp KIS, Mattoangin dan Sambung Nyawa dari Belanda kepada APRIS, seluruhnya selesai tanggal 20 Agustus 1950 sore, KNIL-KL pergi tanpa senjata, mulai saat itu “Peristiwa Makassar” dianggap telah berakhir. ##Pasukan-Pasukan kita menempati Kamp-Kamp yang sudah dikosongkan untuk ditempati, pada bulan September seluruh Pasukan Ekspedisi Garuda Mataram dbp Letkol Soeharto kembali ke Jateng karena tugasnya telah selesai, selanjutnya tanggung jawab militer di Sulsel dan Sektor Makassar dipegang oleh Letkol Suprapto Sukowati. “MENUMPAS RMS” ##Sejak mendarat di Makassar pada tanggal 26 April 1950, AEK sudah mendengar tentang diproklamasikannya “Republik Maluku Selatan” di Ambon oleh Dr. Soumokil, jelas RMS telah mengikuti “Peristiwa Andi Azis, yaitu berusaha mendirikan negara dalam negara. Ia berusaha menghasut di Ambon agar melepaskan diri dari dari RIS pada waktu itu. ##Menghindari pertumpahan darah diantara kita, mengingat sudah banyak korban sejak pecahnya revolusi, maka Pemerintah berusaha menyelesaikan soal Maluku Selatan secara damai karena yakin kebanyakan orang Maluku setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945, sebagian kecil saja yang dihasut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. ##Pemerintah Pusat kemudian mengirimkan utusan yang terdiri dari tokoh-tokoh yang berasal dari Maluku, dipimpin dr. Leimena selaku ketua perutusan dan beranggotakan Ir. Putuhena, Pellaupessy dan dr. Rehatta, berangkat dari Jakarta menuju Ambon dengan menumpang Kapal Korvet ALRI. Sayang setibanya di Pelabuhan Ambon para pejabat disana dilarang RMS naik Kapal Korvet, namun ada seorang pejabat pelabuhan Ambon naik kapal untuk bicara dengan dr. Leimena tapi sekembalinya ke pelabuhan terlihat dari kapal orang tersebut dipukuli oleh para perajurit Baret Hijau, sehingga misi damai pertama tidak berhasil kemudian misi damai keduapun tidak berhasil. ##Untuk menyelesaikan kasus RMS perlu didatangkan pasukan lagi dari Jawa, maka dikirimlah Batalyon Suradji dari Solo dan Batalyon Pelupessy. AEK menganggap cukup pasukan untuk mendarat dulu di P. Buru dan P. Seram Selatan untuk mengisolasi RMS di Ambon. ##Sebelum mendarat di P. Buru dan P. Seram Selatan dilakukan latihan pendaratan dengan LCI (Landing Craft Infantry) disebuah pulau dekat Makassar. Latihan ini antara lain diadakan dengan 2 Kompi dari Batalyon Suradji yang akan didaratkan di P.Buru. Yang dipunyai baru LCI, T&T-IT belum punya LCM (Landing Craft Medium dan LCVP (Landing Craft Vehicles and personnel) yang lebih cocok untu pendaratan bila ada perlawanan, sedangkan LCI jika sudah kandas didekat pantai hanya bisa mendaratkan Tentara seorang demi seorang lewat jembatan sempit sebelah kiri atau kanan dari bagian muka LCI. ##Ada kejadian lucu ketika latihan LCInya kandas sebelum mencapai pantai dengan kedalaman paling sedikit sedada, AEK bersama Kapten Leo Lopulisa dan Mayor Laut Alex Langkay turun bersama para Perajurit Batalyon Suradji. Ketika melangkah kedarat terdengar suara seorang prajurit berteriak pada temannya “Loh air laut asin,” tidak heran mereka berasal dari Solo belum pernah melihat laut, AEK jadi berfikir bahwa pasukan pendaratan ini belum benar-benar merupakan “seaborne forces.” ##Sesudah berlayar 4 hari dari Makassar sampailah di utara P. Buru pada pertengahan Juli 1950, ombak laut saat itu tinggi sekali sehingga hampir seluruh “seaborne force” dari Batalyon Pelupessy dan Batalyon Suradji mabuk laut. Maklum karena hanya menggunakan 2 LCI dan satu LCT (Landing Ship Tanks), disana rendezvous (berkumpul) dahulu dengan kapal Waikelo yang membawa Batalyon 3 Mei dbp Mayor Mengko dari Manado. Pendaratan 2 Kompi Batalyon Suradji disebelah barat Namlea tidak ada perlawanan, menyusul mendarat Batalyon Pelupessy yang akan maju ke Namlea mendapat perlawanan dan menderita korban. Baru kemudian didaratkan Batalyon 3 Mei yang para Prajuritnya masih dalam keadaan segar ketimbang kedua pasukan sebelumnya banyak yang lemas akibat mabuk laut. ##Keesokan harinya tiba dengan Kapal Korvet Letkol Slamet Riyadi, Komandan Pasukan Maluku. Maka direncanakan untuk menduduki P. Piru oleh Batalyon 3 Mei, dimana sebelumnya dikirimkan 3 orang Tentara untuk mengajak Pasukan RMS bergabung atau menyerah saja, ternyata setelah P. Piru diduduki Tentara kita ketiga orang itu sudah ditembak mati oleh Nussy Komandan Pasukan RMS di P. Piru, salah satunya Lestiluhu Komandan Pasukan RMS di P. Buru yang telah menyeberang mantan anggota Baret Hijau, ia banyak memiliki teman di Batalyon 3 Mei dimana salah satu Peletonnya terdiri dari mantan anggota Baret Hijau dan Baret Merah. ##Dua hari kemudian dua Kompi Batalyon Suradji mendarat di teluk sebelah utara Amahai, Letkol Slamet Riyadi selalu memimpin didepan, sesudah bertempur selama dua jam Amahai dapat diduduki. ##Sesudah itu AEK kembali ke Makassar, untuk menunggu pasukan-pasukan baru dari P. Jawa untuk melakukan serangan ke P. Ambon diakhir bulan Agustus. Letkol Slamet Riyadi Sebagai Komandan Pasukan Maluku, bersama Kepala Stafnya Mayor Pieters mengkonsolidasikan pasukannya, P. Buru dan P. Seram diamankan. Juga P. Banda ditempatkan pasukan kita, Batalyon Abdulah sudah berada di Tanimbar, Kei, Aru sampai Geser dan beberapa tempat di Seram Selatan. Sementara itu Pasukan RMS menyeberangkan sebagian pasukannya ke P. Seram dan menyerang Amahai, tapi serangan itu dapat dipatahkan Batalyon Suradji. ##Walau peristiwa Makasar mempelambat gerakan pasukan ke Ambon paling sedikit sebulan, tapi lambat laun pasukan yang direncanakan ke Ambon berdatangan, pasukan akan didaratkan ke Hitulama-Hitumesing, utara P. Ambon, di Timur P. Tulehu dan sesudah pasukan-pasukan bertemu di paso akan menyerang Kota Ambon dari utara dan ada pasukan lain yang akan menduduki Lapangan Terbang disebelah barat P. Ambon. Pasukan dbp Letkol Sudiarto yang kemudian gugur diganti Mayor Yusmin dan Pasukan 3 Mei dbp Mayor Mengko akan mendarat di Tulehu. ##Untuk pendaratan pasukan di Tulehu juga di Hitu sudah menggunakan LCM, sesudah pendaratan di pantai Tulehu AEK juga Slamet Riyadi bersama pasukan maju ke Tulehu dan terus ke jurusan Ambon, tetapi kira-kira satu kilo meter dari Tulehu mendapat perlawanan hebat, dalam pertempuran itu 20 anggota 3 Mei gugur. Ajudan Slamet Riyadi, Sukirmo luka kena tembak. Baru sore hari pasukan bisa maju lagi, tetapi delapan kilometer kemudian terjadi lagi pertempuran sampai malam hari dalam keadaan gelap dan basah kuyup kena hujan. AEK juga mendengar kabar gugurnya Letkol Sudiarto, ia kena tembak sebelum mendarat ketika pintu LCM baru dibuka sebelum melakukan pendaratan di Hitulama/Hitumesing, AEK hormat untuk pahlawan ini. ##Gerakan Pasukan Mayor Yusmin dibantu Pasukan Mayor Suryo Subandrio terhenti dekat Telaga Kodok, karena ada perlawanan hebat Pasukan RMS, gerakan dari Tulehu diteruskan tapi sangat lamban, karena diganggu sniperfire RMS. Baru beberapa hari sesudah itu pasukan kita sampai di Suli dan di daerah itu sulit untuk melakukan gerakan melambung. ##Beberapa hari setelah pendaratan di Tulehu, Menteri dr. Leimena, Ir. Putuhena dan dr. Rehatta tiba disana dikirim Pemerintah Pusat untuk ketiga kalinya guna menyelesaikan peristiwa ini dengan damai, sayang mereka tiba terlambat karena pertempuran sudah mulai sejak 28 September. AEK merasa kemungkinan besar Pimpinan RMS tidak mau berunding, padahal rakyat Maluku Selatan sudah menderita karena terkena blokade yang terpaksa dilakukan Pemerintah Pusat. ##Gangguan sniperfire juga menimpa Letkol Slamet Riyadi ketika berkendaraan Jeep sendirian dari Tulehu menuju Suli, ketika melintasi hutan ada seorang RMS yang mencoba menghentikannya sambil menembak, beruntung masih berbalik badan namun tangannya terkena tembakan. ##Gerakan pasukan sampai di Waitatiri tertahan dalam pertempuran hebat, musuh bisa bertahan lama disana dan pasukan kita terhambat sampai empat minggu lamanya, karena pasukan musuh menggunakan lubang perlindungan peninggalan KNIL untuk menghadapi serangan Jepang tahun 1942, musuh menembaki pasukan kita dari atas pohon-pohon. ##Sementara itu bantuan pasukan dari Jawa datang lewat Makassar, lantas ke P. Buru terus ke Tulehu. Serangan ke Ambon dimulai tanggal 3 November 1950, Pasukan Kapten Poniman mendarat di selatan Kota Ambon, Pasukan Mayor Lukas Kustaryo mendarat di sebelah utara Kota Ambon, Pasukan Batalyon 3 Mei menduduki sebelah tenggara Kota Ambon, Pasukan Mayor Yusmin dan Mayor Subandrio menyerang dari Telaga Kodok ke jurusan Paso. Dan dari Waitatiri beregerak majuPasukan Kapten Claproth, Mayor Worang, Kapten Mahmud Pasha, Mayor Suradji. Letkol Slamet Riyadi dan Kapten Muskita ikut bersama pasukan yang berangkat dari Waitatiri, AEK berangkat dari Tulehu menggunakan Kapal Laut, bersama dengan Pasukan Mayor Achmad Wiranatakusumah dan Letkol Daan Yahya yang diperbantukan kepada AEK. ##Kekuatan Laut yang dikerahkan sebanyak 3 korvet, ialah “PATIUNUS” dbp Mayor Laut Rais, sebagai kapal komando tempat AEK berada, “BANTENG” dan “RAJAWALI” yang bertugas mengangkut dan melindungi pendaratan pasukan, dengan Liason Officer ALRI adalah Mayor Alex Langkay. Selain itu dikerahkan pula 2 Pesawat Udara AURI Pembom B-25, dengan pilot Kapten Udara Noordraven dan Letnan Udara Ismail. ##Malam hari tanggal 2 November 1950, sebelum AEK berangkat masih sempat bertemu dengan Menteri dr. Leimena, Ir. Putuhena dan dr. Rehatta. Mereka berharap tugas kita cepat selesai dengan sedikit korban, supaya rakyat Maluku yang tidak bersalah tidak menjadi korban pertempuran. Sayangnya harapan itu tidak terlaksana, pertempuran selalu membawa korban jiwa dan harta-benda. ##Pasukan Lukas mendarat dan menguasai benteng Victoria, sebelah utara pelabuhan. Sebelum pukul 11.00 Pasukan Mayor Lukas, Kapten Poniman dan Batalyon 3 Mei sudah menguasai sebagian besar Kota Ambon, Pasukan Mayor Achmad Wiranatakusumah menguasai pelabuhan. ##Pasukan dari Waitatiri sudah sampai di Paso, bertemu dengan Detasemen Faah, kemudian bertemu juga dengan pasukan yang dari Telaga Kodok. LetKol Slamet Riyadi sampai dekat Halong hari itu, dan keesokan harinya meneruskan gerakan ke Ambon sampai di sebelah utara kota pukul 15.00 tanggal 4 November 1950. ##Tapi keadaan sudah berubah, pada pukul 12.00 Pasukan RMS dengan Panser mengadakan serangan dan merebut kembali benteng Victoria. Ada pasukan kita yang terpisah di Batumerah sebelah utara Kota Ambon, untung kemudian datang Pasukan yang dipimpin Letkol Slamet Riyadi yang bergerak dari Galala ke Batumerah untuk membantu Pasukan Mayor Achmad Wiranatakusumah, terus bergerak memasuki Kota Ambon. Letkol Slamet Riyadi berada di depan duduk diatas Tank, tertembak peluru Bren yang dilepaskan seorang anggota RMS yang mengakibatkan luka parah dan akhirnya gugur sebagai kesuma bangsa. ##Hari ketiga setelah pasukan mendarat, AEK memanggil Letkol Warouw untuk segera datang ke Ambon dan pada hari kelima AEK memeriksa keadaan Kota Ambon dan bertemu dengan Letkol Warouw yang selanjutnya memegang Komandan Pasukan Maluku. ##Setelah Kota Ambon dikuasai, tanggal 8 November 1950 AEK kembali ke Makassar dengan naik Korvet ke P. Buru dan naik Pesawat Terbang dari sana ke Makassar, mengingat keadaan di Ambon tinggal gerakan-gerakan pembersihan saja. Musuh kebanyakan lari ke Soyadiatas, terus ke P. Seram, sesudah itu Haruku dan Saparua diduduki pasukan kita tanpa jatuh korban, sesudah itu P. Ambon menjadi aman. ##Tanggal 25 November 1950, AEK kembali ke Ambon, keadaan sudah lebih baik sedikit, kota sudah kembali ramai, walau masih banyak terlihat lubang-lubang peluru di tiang telepon dan listrik. AEK bertemu dengan dr. Sitanala ayah Mayor Sitanala komandan di Bali, ia berkata bahwa “tahun 1942 Jepang datang di Ambon selama dua hari mengambil barang milik rakyat,” tahun 1945 Australia datang selama tujuh hari mengambil barang rakyat,” tahun 1950 TNI datang dan setelah empat belas hari mengambil barang baru diambil tindakan.” AEK tidak dapat mengatakan apa-apa karena memang banyak avonturir dalam pasukan kita. ##Tahun 1951 sisa Gerilya RMS berada di Pulau Seram, sementara Komandan Pasukan Maluku pada pertengahan tahun 1951 sudah dipegang Letkol Suprapto Sukowati, AEK bersamanya memeriksa pasukan di-pasukan di P. Seram. Memeriksa Batalyon Matalatta dan Batalyon Rivai di P. Seram. AEK gerakan-gerakan anggota pasukan dengan cara “antigerilya,” disiplin menembak (vuurdiscipline-nya) hebat dan tidak memberikan pasukan musuh beristirahat. ##AEK gembira dengan gerakan-gerakan anggota pasukan yang dilihatnya dan menanyakan siapa yang pernah melatih gerakan seperti itu? ternyata yang melatihnya Kapten Muskita. Ilmunya sama seperti yang pernah AEK pelajari, “Lebih baik keluar keringat lebih banyak dari pada keluar darah,” (“Beter meer zweet en bloed”) begitulah cara antigerilya. ##Yang tidak mengetahui ilmu itu, kadang-kadang mereka mau jalan pintas, supaya cepat, padahal di lapangan yang terbuka sering kali itu berbahaya. Sebab lebih baik mengambil jalan keliling tetapi aman, dan bisa menyerang mendadak daripada jalan pintas tetapi terbuka serta gampang ditembak atau disergap musuh. ##P. Seram luas sekali dan lebat lebat, antigerilya setengah mati mencari gerilya disana dan memakan waktu lama. Waktu AEK berangkat, tugas di P. Seram belum selesai, baru pada tanggal 12 Desember 1963 akhirnya Soumokil tertangkap di dekat Wahai, P. Seram Utara bagian Tengah oleh Batalyon Siliwangi dbp Endjo. “MENGHADAPI KAHAR MUZAKAR” ##Disamping soal Andi Azis, KNIL-KL dan RMS, masih ada satu soal lain yang harus diselesaikan yaitu soal Kahar Muzakar dan pengikutnya, yang ternyata berkepanjangan. Sebenarnya persoalan ini sudah lama, yakni masalah yang menyangkut gerilyawan di Sulsel. ##Kahar Muzakar pada tanggal 30 April 1950 berkirim surat kepada Pemerintah Pusat dan Pimpinan APRIS di Jakarta, yang isinya antara lain meminta agar kepadanya diberikan tugas untuk berdinas lagi di Sulsel setelah peristiwa Andi Azis. Ia seperti ingin membereskan keadaan di Sulsel, walau sebenarnya Kahar Muzakar jauh sebelum ini pernah dipecat dari dinas ketentaraan. ##Menurut C. Van Dijk yang menulis buku Darul Islam (1983), bahwa Kahar Muzakar diperintahkan kembali ke Sulsel begitu pemberontakan Andi Azis meletus. Ia naik Kapal Korvet Hang Tuah yang dikirim Pemerintah Pusat dan tiba di Makassar tanggal 9 April 1950, tapi Van Dijk tidak menjelaskan siapa yang memerintahnya. Diceritakan lagi Kahar Muzakar tanggal 16 April 1950 dipanggil lagi ke Jakarta sesudah Andi Azis menyerah atau seminggu lebih sebelumnya ekspedisi militer mendarat di Sulsel. Kemudian Kahar Muzakar muncul lagi di Makassar tanggal 22 Juni 1950. ##AEK heran kenapa Pimpinan AD mengirim dia ke Sulsel, Kahar Muzakar orangnya kekiri-kirian atau merah jambu, yang berkeinginan memimpin di daerah ini, kalau tidak sedikitnya memimpin bekas gerilya dalam satu resimen, kalaupun itu tidak bisa tercapai pasti dia menghasut-hasut gerilyawan untuk masuk hutan. Ternyata dugaan AEK benar, karena dia bukan akan membereskan keadaan malah menghasut. ##Bukan saja Letkol Soeharto Komandan Kota Makassar dan sekitarnya yang tidak mempercayainya seperti yang bisa dibaca dalam buku tulisan O.G. Roeder, “Anak Desa” Biografi Presiden Soeharto (halaman 213), tetapi seluruh Staf TT-VII juga mengemukakan demikian kepada AEK. ##Kahar Muzakar datang bersama Mayor Mursito, setelah berbicara dengan AEK dia keliling Sulsel, katanya untuk meyakinkan para gerilyawan agar menerima syarat yang diusulkan Tentara Republik, yaitu “mereka diakui sebagai prajurit dulu baru sesudah itu dijalankan rasionalisasi.” ##Kahar Muzakar bersama Mayor Mursito berjalan jauh kepedalaman, bukan menasihati gerilyawan supaya masuk kota memenuhi anjuran pemerintah, melainkan dia menghasut gerilyawan masuk hutan, tentu dia bicara dalam bahasa Bugis yang tidak dimengerti Mayor Mursito. Sesudah itu ia lapor ke TT-VII tugas telah diselesaikannya, esok harinya akan berangkat ke Jakarta bersama Mayor Mursito, ternyata keesokan harinya ia lari masuk hutan bersama seluruh gerilyawan. ##Jenderal A.H.Nasution dalam memoarnya “Memenuhi Panggilan Tugas” (jilid 2), mencatat bahwa “Letkol Kahar Muzakar telah berkali-kali meminta ke Staf AD agar ia dikirim ke Sulsel, apa lagi dalam suasana pemberontakan Andi Azis. Setelah kita menguasai keadaan, maka Kepala Staf Teritorial Kolonel B. Supeno menyarankan ikut sertanya Pamen (Perwira Menengah) ini ke Makassar, Saya setujui dan jadilah “hilang” ia disana, dilaporkan ke Staf AD “diculik.” Cukup sengit perdebatan kita kemudian di Staf mengenai kejadian yang amat disesalkan ini.” ##Ternyata Pemerintah Pusat menginginkan masalah Gerilyawan Sulsel itu diselesaikan dengan perundingan, tetapi perundingan berjalan seret karena pihak gerilyawan menuntut terlalu banyak, Kahar Muzakar ingin membentuk Brigade tersendiri, tidak terpencar dalam sejumlah kesatuan, ingin bernama Brigade Hasanudin, dengan Komandannya Kahar Muzakar. ##Di bulan Juli 1950, sebenarnya masalah gerilyawan di Sulsel sudah dianggap selesai dengan dikeluarkannya pengumuman KTT-VII, no. 90027/7/50, yang menyebutkan bahwa gerilya dibagi dalam empat kategori, yakni gerilya patriot sejati, gerilya provokator, gerilya penjahat dan lainnya. ##Kemudina AEK mengemukakan bahwa sesuai hasil peneilitian tahun 1951 yang diadakan di Makassar, korban di pihak Indonesia antara tahun 1945-1949 yang diakibatkan operasi Tentara Belanda kurang lebih 1.700 orang, terjadi antara pertengahan tahun 1946-1947. Dari angka itu 700 orang adalah korban “Depot Speciale Troepen” (Pasukan Khusus) atau lebih dikenal dengan singkatan DST, bersama “Barisan Penjaga Kampung” yang dipersenjatai DST hasil rampasan dari gerilyawan. Dari angka itu 500 orang adalah korban “Barisan Penjaga Kampung.” Komandan Pasukan Belanda di Sulsel mencatat 1000 orang gerilyawan dibunuh pasukannya diluar Makassar antara tahun 1946-1947. Gerilyawan selama tahun 1946 telah menyelesaikan kurang lebih 1000 orang rakyat Sulsel yang dianggap penghianat, “menyedihkan.” ##Dan lagi sesudah akhir 1946 sampai permulaan 1947, setelah selama kurang lebih 3 bulan Kapten R.P.P. Westerling dengan DSTnya, kemudian bersama Paratroepennya (Pasukan Para) dijadikan Korps Speciale Tropen (Korps Pasukan Khusus) Tentara Belanda, beroperasi di Makassar dan sekitarnya. Boleh dikatakan tidak ada lagi operasi gerilya yang berarti terhadap pihak Belanda sampai APRIS datang tahun 1950. ##Di bulan Agustus 1950, gerilyawan 70 % sudah masuk tentara dan 30 % menolak. AEK menegaskan terhadap mereka yang menolak ajakan pemerintah untuk kembali ke masyarakat dan tidak mentaati perjanjian bersama untuk memelihara ketentraman, akan ditindak tentara. Gerilyawan yang mengajukan diri menjadi tentara akan diatur oleh Perwira Urusan CTN (Korps Cadangan Nasional), yang tidak memenuhi persyaratan diserahkan kepada Staf “K” (Biro Rekonstruksi Nasional) untuk diurus lebih lanjut. ##Pembentukan Batalyon-Batalyon CTN sebagai satu-satunya organisasi tentara, Kahar Muzakar akan dijadikan Wakil Komandan Resimen “Hasanudin, dengan Komandan Resimen Letkol Warouw. Dan perwira bekas Staf CTN diberi kedudukan di Staf Resimen, Staf TT-VII dan Staf Batalyon bekas CTN. AEK merasa itu semua sudah merupakan keputusan tepat dan maksimum. Tanggal 25 Mei 1951, dilaksanakan pelantikan CTN Sulsel bertempat di lapangan terbuka Hasanudin yang disaksikan umum. ##Korps Cadangan Nasional terdiri dari 5 batalyon, yakni Batalyon “Batu Putih” dbp Kaso Gani, Batalyon “Wolter Monginsidi” dbp Andi Sose, Batalyon “40.000” dbp Syamsul bakhri, Batalyon “Arief Rate” dbp Azis Taba dan Batalyon Bau Massepe dbp Andi selle. ##Antara bulan Maret sampai Agustus 1951, terjadi insiden-insiden yang ditimbulkan ketidak puasan Kahar Muzakar dan pengikutnya, sebagai reaksi ketegasan AEK mengenai CTN tidak bisa berubah keputusannya. Persoalannya adalah pengaturan definitif masuknya batalyon-batalyon kedalam Tentara Republik yang dilaksanakan bertahap, Kahar Muzakar tidak menyetujuinya. Kahar Muzakar menjauh lagi, sementara orang percaya kerenggangan itu bisa diperbaiki. Padahal AEK sejak semula tidak mempercayai Kahar Muzakar memiliki kejujuran, karena dia sebenarnya mempunyai ambisi memimpin di Sulsel. ##Pemerintah masih masih melihat adanya kemungkinan mendekati Kahar Muzakar yang sudah menjauh lagi itu, Gubernur mencoba mendekati lagi demikian pula tokoh-tokoh masyarakat mendekatinya lagi. AEKpun mencoba membereskan keadaan dan berusaha mengalahkan perasaannya. Gubernur Sudiro yang ditempatkan di Makassar sejak Juni 1951, dalam bulan Agustus 1951 di Watampone mengadakan pertemuan dengan Pemerintah Setempat dan Pemuka Masyarakat, menetapkan tanggal 17 Agustus 1951, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan akan diadakan upacara peresmian 4 Batalyon CTN menjadi TNI. ##Sementara di Sengkang juga diadakan pertemuan yang dihadiri oleh wakil-wakil parlemen seperti Dirk Syaranamual, Mohammad Yusuf, Wakil Gubernur Supit, Komandan Pasukan A, Komando Persiapan Brigade Hasanudin, Kahar Muzakar beserta Kepala Stafnya Bambang Sukrisno dan keempat Komandan Batalyon. Menetapkan keputusan 1) Pelantikan CTN Sulsel menjadi TNI akan dilangsungkan tanggal 17 Agustus 1951. 2) Jumlah anggota yang dilantik berjumlah 4000 orang yang tergabung dalam 4 Batalyon Infanteri, yaitu “Batu Putih,” “40.000,” Wolter Monginsidi,” dan “Arief Rate,” mereka yang tak memiliki senjata dipisahkan untuk diberi status CTN Jawa. 3) Kahar Muzakar akan menjadi Wakil Komandan Pasukan “A” dengan pangkat acting Letkol, bertugas memimpin keempat batalyon yang baru dilantik, sedang anggota Stafnya akan ditetapkan Komando Pasukan “A” dan yang memimpin dipertimbangkan antara Letkol Warouw atau Kahar Muzakar. ##Berita itu menggembirakan, Gubernur Sudiro mengucapkan selamat. Pertengahan Agustus 1951 Menteri Sewaka datang di Makassar menyampaikan perintah kepada AEK untuk menyerahkan uang 2 juta rupiah dan sejumlah pakaian seragam pengikut yang terpengaruh oleh Kahar Muzakar. Uang dan pakaian kemudian diserahkan kepada kahar Muzakar di dekat Enrekang, tetapi setelah uang dan pakaian diterimanya, mereka kembali masuk hutan dan tidak melakukan kegiatan menjelang 17 Agustus 1945, rupanya kejadian itu dipakai untuk “menarik napas.” ##Tepat tanggal 17 Agustus 1951, pukul 06.30 sesuai rencana semua wakil organisasi, pembesar sipil dan sipil diantaranya Mendagri Mr. Iskaq khusus datang dari Jakarta, Panglima TT-VII dan Gubernur Sudiro serta yang lain sudah hadir di Lapangan Hasanudin untuk menyaksikan pelantikan CTN, tapi sampai waktu yang ditetapkan tidak ada satupun CTN yang hadir. ##Melihat kejadian itu AEK berang, mencela tindakan itu dan mengumumkan akan mengambil tindakan sesuai keadaan. Perbuatan itu mengacaukan penyelesaian, mengganggu keamanan, menghambat pembangunan serta menyinggung kehormatan negara. Sebenarnya AEK sudah mengira kalau Kahar Muzakar tidak akan datang, karena ia bukanlah orang bisa menepati janjinya. ##Di akhir bulan Agustus 1951, Perdana Menteri yang baru, Sukiman mengeluarkan ultimatum, memberikan waktu 5 hari kepada para pemberontak itu untuk melapor. AEK harus menyabar-nyabarkan diri, tunduk menunggu 5 hari, setelah waktu ultimatum berakhir, operasi militer dilancarkan kembali, uang 2 juta rupiah itu tidak sedikit membantu musuh kita waktu itu. ##Ya seandainya Kahar Muzakar tidak dikirimkan ke Makassar, menurut AEK keadaan tidak akan menjadi rumit berkepanjangan, tapi nasi sudah menjadi bubur. Kahar Muzakar harus dikejar terus, memakan waktu lama. Baru di tahun 1965, yang diketahui AEK tepatnya 3 Februari, di tepi Sungai Lasolo, Desa Laiyu, Kahar Muzakar kena tembakan Kopda Ili Sadeli dari Yon 330 Kujang I-Siliwangi mengakhiri hidupnya. “IKUT PON I TAHUN 1951 DI JAKARTA” ##Sebelumnya AEK mendengar kabar akan dipindahkan menjadi Panglima TT-III/ Siliwangi, dalam menunggu kepindahannya mendengar kabar bahwa akan ada PON di Jakarta di akhir bulan Oktober 1951. Apa itu PON? AEK waktu itu bertanya kepada teman bicaranya, Pekan Olahraga Nasional jawabnya. ##Ada seorang bekas KNIL, instruktur anggar bernama Sengkey, ia mengajak kembali AEK mencoba lagi Cabang Olahraga Anggar yang disukai sejak di HBS dulu, “tak mungkin bisa lagi” jawabnya, “itu sudah sepuluh atau sebelas tahun lalu.” Guru Anggar itu bersikukuh, akhirnya AEK tertarik untuk dilatih olehnya. You musti masuk Floret, tapi AEK lebih menyukai Sabel setelah merasakan denyut nadi yang menandakan dirinya masih menguasai barang sedikit gerakan-gerakannya lebih pas Sabel. ##Tetapi tidak ada waktu untu latihan Sabel, mesti Floret dulu baru setelah itu Sabel. Ya sudahlah kalau tidak bisa Sabel Floretpun jadilah, itu juga saran Suratman seorang akhli Pemain Anggar dan Instruktur. ##Ternyata AEK bisa masuk Regu Floret Sulsel, sangat menyenangkannya karena Regu Floret Sulsel jadi nomor dua setelah Jabar dalam pertandingan PON itu. Dan lebih merasakan kebanggaan yang luar biasa sebagai seorang olaharagawan ketika menjadi Juara perseorangan Floret yang diikuti 55 orang peserta, yang masuk final ialah Kuron bekas Guru Anggar di Akademi Militer, Suparman bekas Guru Anggar di HBS V Bandung, Sengkey Instruktur kira-kira satu bulan lamanya di Makassar, Kasban dari Surabaya, Walanda dari Medan dan AEK. Dalam final AEK mengalahkan guru-gurunya sehingga mendapatkan medali emas, waktu itu AEK berusia 31 tahun sedangkan guru-gurunya empat puluh tahunan lebih. ##Kemudian dengan SK no. 215 tahun 1951, ditanda tangani oleh Presiden RI Soekarno dan Menteri Pertahanan Sewaka, AEK pada tanggal 2 November 1951 ditetapkan sebagai Panglima TT-III/Siliwangi-Jabar dengan pangkat Kolonel dan dibebaskan tugaskan sebagai Panglima TT-VII/Indonesia Timur. ##Pada waktu meninggalkan Makassar untuk melaksanakan timbang terima jabatan di Bandung, Kolonel Gatot Subroto yang menggantikan AEK belum tiba di Makassar, oleh karena itu timbang terima dilakukan AEK dengan Kepala Stafnya Letkol R.A. Kosasih. “MEMIMPIN SILIWANGI” ##Bulan November 1951, dilaksanakan timbang terima jabatan dengan Panglima Siliwangi dari Kolonel Sadikin, Panglima Siliwangi ke-4 kepada AEK Panglima Siliwangi ke-5. Saat serah terima dan menerima pataka, Sadikin mengenakan seragam hijau dengan pet dan sepatu lars tinggi, sementara AEK mengenakan seragam Khaki, peci hitam, pantalon gombrang dengan baju lengan panjang, begitulah waktu itu seragam tentara jauh dari serupa. ##Akhir tahun 1951 Kota Bandung masih terasa sejuk, ditengah udara yang segar AEK sering naik kuda mengelilingi Kota atau Tegallega, kenangan lama muncul apalagi bila lewat gedung HBS V tempat bersekolah dahulu dan tempat lain yang memiliki kenangan khusus seperti bekas Kamp tawanan jaman Jepang dimana ia pernah meringkuk sebagai tawanan. Namun demikian kenyamanan tersebut tersisihkan oleh tugas menghadapi gerombolan DI-TII yang melakukan kekacauan disejumlah tempat terutama di daerah Priangan Timur ##Kepala Staf AEK ialah Letkol dr. Erie Sudewo kemudian diganti Letkol Taswin, Kepala seksi I Mayor Djuhro, Kepala Seksi II Mayor Umar Wirahadikusumah, Kepala Seksi III Mayor Suwarto, Kepala Seksi IV Mayor Pung Suparto, Kepala Seksi V Mayor Mashudi denga Wakilnya Kapten Nawawi Alif. ##Komandan Resimen adalah, Letkol Sambas Atmadinata, Letkol Gani, Letkol Saragih, Letkol Omom Abdurahman dan Letkol Rukman. Dengan ditiadakannya Gubernur Militer Jakarta Raya, langsung dibawah TT-III/Siliwangi. Komandan Resimen di Jakarta Mayor Kemal Idris, Komandan Militer Kota Besar Jakarta Raya Letkol Taswin. Komandan Militer Kota Besar Bandung Mayor Sugiarto, Komandan CPM Mayot Rusli, Komandan Zeni Kapten Dandy Kadarsan, Kepala kesehatan Letkol dr. Wonoyudo. ##Para Danyon pada akhir tahun 1951 ialah Mayor Darsono, Mayor Mustafa, Mayor Kaharudin Nasution, Kapten Ishak Djuarsa, Mayor Mung Pahardimulyo, Mayor Sitorus, Mayor Sumardja, Kapten Sunaryo, Kapten Somali, Kapten Suyoto, Mayor Oesman Ismail, Kapten Dodong, Mayor Lukas Kustaryo, Mayor Mursyid, Mayor Malau, Mayor Bedjo, Kapten Syafei, Mayor Supardjo, Kapten Daan Anwar, Kapten Poniman, Kapten Djauhari, Kapten Charis Suhud, Kapten Machmud Pasha, Kapten Mardjono dan Kapten komir Kartaman. ##Perhatian AEK lebih ditujukan kepada kemampuan pasukan-pasukan terutama dalam menghadapi gerombolan DI-TII, karena dinilainya gerakan yang dilakukan pasukan-pasukan masih kurang sekali, selalu gerakan pasukan terlalu besar sehingga mobilitasnya kurang dan lamban sekali. AEK memerintahkan untuk memperbaiki gerak pasukan-pasukan kita, patroli harus kecil, paling besar satu peleton saja dan harus bergerak setiap hari. Tiap batalyon di daerahnya harus mempunyai cadangan sedikitnya dua peleton. Diperintahkan juga agar setiap pasukan melakukan hubungan erat dengan rakyat setempat dan putuskan hubungan rakyat dengan DI. ##AEK mengunjungi Priangan Timur daerah paling rawan DI saat itu, juga mengunjungi Batalyon Depot dbp. Kapten Paikun, untuk menegaskan cara “anti gerilya” sampai rinci terutama bagi pasukan-pasukan yang masih kurang paham. Mengajarkan patroli antigerilya dengan pasukan-pasukan kecil dalam melawan gerombolan yang punya senjata sama baiknya dan masih punya hubungan dengan masyarakat. Tiap patroli biar berkekuatan satu regu, tetapi teratur, rapat dan kompak dalam daerah tertutup atau terpencar di daerah terbuka, dapat melihat ke segala arah tetapi jangan sampai bisa dilihat, dengan kekuatan senjatan satu bren, sepuluh senapan dan satu sten (senjatan otomatis) serta granat tangan, merupakan satu kesatuan yang sangat kuat apalagi satu peleton. Unsur pendadakan selalu harus bisa dicapai jika ada kontak senjata dengan musuh, patroli harus selalu mencari, mendekati dan menyergap musuh, seperti Macan mencari, mendekati dan menyergap mangsanya. Tentu cara ini sangat meletihkan dan perlu kesabaran, moto kita adalah “Lebih baik keluar banyak keringat daripada darah.” ##Pos-pos peleton terpencil di daerah DI harus dibangun secara teratur, pos itu harus ditempatkan yang agak tinggi, supaya memiliki ketiga posisi, yakni posisi “darurat” (“alarmstelling”), posisi “tempur” (“gevechtstelling”) dan “boxstelling.” Yang disebut posisi “darurat” ialah dekat ruangan tidur, dapur, pancuran, lapangan kecil dsb jika diserang musuh. Posisi “tempur” ialah posisi yang lebih baik dan taktis bila menghadapi serangan. Dan “boxstelling” ialah dimana setiap regu dapat menembak ke segala jurusan jika musuh sudah masuk ketengah-tengah kita. ##AEK berfikir tentara kita harus punya doktrin “antigerilya,” yang harus diajarkan di Batalyon Depot dan di BTC (Battle Training Centre) yang dibangun di Lembang dan Pangalengan. Selain itu AEK mengajarkan “hinderlaag” (“penghadangan”), yang sering terjadi di malam hari di tengah hutan, di sawah dan di tempat-tempat lainnya. Sering musuh berjalan dengan dua-tiga orang di depan, jika dibiarkan yang dua-tiga orang tadi lewat, gerombolan dalam jumlah besar akan menyusul, mereka ini harus disergap. ##Maka cara gerak antigerilya ini harus sering diajarkan secara intensif di daerah yang masih dikuasai oleh musuh (DI), dimana taktik menghadapi DI ialah harus sering berpatroli dan jangan memberikan kesempatan musuh kita bisa bernapas, jangan paksa penduduk melawan DI jika memasuki desanya, karena ia sudah lemah tidak memiliki senjata untuk melawan. Juga jangan memaksa penduduk untuk memberikan makanan dan minuman kepada tentara jika memasuki desa, karena penduduk sudah serba kekurangan. AEK memberikan pengertian bahwa tentara harus baik-baik terhadap rakyat, dimana Petani, Pedagang, Guru, Alim-Ulama, Pegawai atau kita tentara semuanya adalah rakyat biasa tidak ada diantara kita yang menjadi Warga Negara istimewa. Tetapi kita harus mendapatkan laporan dari rakyat, dimana adanya atau ke arah mana perginya gerombolan itu, dan kita harus bisa sampai kepelosok-pelosok walau dengan kekuatan yang terbatas. ## Karena itu para Danyon sendiri harus mengerti cara-cara dan taktik antigerilya, kepada merekapun diberikan latihan itu. AEK memimpin sendiri latihan bergerak dengan satu peleton tang 80 % terdiri dari para Danyon dimana AEK bertindak sebagai Danton di daerah Garut Selatan. Dengan tujuan agar para Danyon itu ikut merasakan beratnya melakukan patroli taktik “antigerilya” yang biasa dilakukan peleton dan regu, karena para Danki dan Danyon biasanya hanya mengkoordinasikan dan mengawasi patroli-patroli di daerahnya. Kelak yang menyempurnakan cara ini di akhir tahun 50an antara lain Mayor Banuarli dan Mayor Sanip. “DIRIKAN KESATUAN KOMANDO” ##Untuk melawan gerakan-gerakan gerombolan yang mobil itu, AEK memandang perlu membentuk satu kesatuan yang terlatih, bertempur dalam kesatuan kecil sampai dengan dua orang saja, all round dan itu harus diciptakan, diadakan. ##AEK berkenalan dengan Visser, bekas Sersan Komando Belanda waktu PD II, di bulan September 1944 pernah mendarat secara gliderborne bersama Divisi Para ke 82 Amerika Serikat dbp. Mayjen James Gavin di Grave Belanda, waktu operasi besar-besaan Tentara Sekutu terhadap Nazi Jerman dengan sandi Market Garden. Dan bulan November 1944 ia bersama Komando Inggeris pernah mendarat secara seaborne di Walcheren Belanda. Jadi Ia sudah berpengalaman dan terakhir berpangkat Kapten dengan jabatan Komandan Pendidikan Para (School tot Opleiding van Parachutisten) di Cimahi, pensiun tahun 1949. Ia sudah menjadi WNI dan tinggal di Lembang sebagai Petani. ##Pengetahuan dan pengalamannya menarik perhatian AEK, maka Visser yang sudah berubah namanya menjadi Mohamad Ijon Jambi dipanggil ke Kantornya, AEK menyampaikan rencana dan keinginan membentuk Pasukan Komando dengan kekuatan satu Kompi dengan jumlah Pelatih yang cukup dan kalau perkembangan baik bisa sampai satu Resimen. AEK mengusulkan agar ia suka menjadi Pelatihnya, ternyata ia bersedia, kemudian diatur sehingga ia mendapatkan pangkat Mayor. Setelah bergaul dengan anggota tentara kita, kelihatannya ia betah. ##Pada permulaan tahun 1952 mulailah Mayor Suwarto yang saat itu bertanggung jawab atas Pendidikan TT-III/Siliwangi bekerja merealisasikan pembentukan Pasukan Komando, M. Ijon Jambi diangkat sebagai Komandan kesatuan, bersama Lettu Marzuki Sulaiman, yang kemudian jadi Kapten, sebagai Perwira Pendidikan merangkap Pelatih Utama. Kesatuan Komando ini dinamakan Kesko (Kesatuan Komando) TT-III/Siliwangi. ##Pada langkah pertama didatangkan dua orang pembantu yang telah lulus latihan Combat Intelligence dan mendapat brevet penerjun, yaitu Letda Hang Haryono dan Serma Trisno Yuwono, yang pandai mengarang pula. Kemudian ditetapkan pula Komandan Kompinya Kapten Supomo berasal dari Yon 304 dbp Kapten Ishak Djuarsa. Mengingat baru ada dua orang Pelatih, maka diambil tenaga sukarela dari SKI (Sekolah Kader Infanteri) dan Depot Batalyon, dengan pertimbangan mereka sudah memiliki kualifikasi sebagai Pelatih Infanteri, jadi tinggal diberi tambahan pengetahuan dan latihan tambahan dalam waktu pendek untuk melatih yang lain. Latihan dimulai dengan 15 orang Bintara di SKI Cimahi lalu pindah ke Batujajar, setelah 22 bulan penggemblengan, hasilnya lulus 8 orang menjadi Pelatih Khusus Komando, diantaranya seperti dimuat dalam buku “Siliwangi dari masa ke masa,” Serma Sitompul, Serma Tendi Sutendi, Serma Suwandi dan Kopral Tasdik. ##AEK menaruh perhatian besar pada latihan Komando ini, seperti memimpikan beberapa malam yang menyenangkan : Kesatuan tangkas, cepat, sigap, berani dan penuh percaya diri. Ia sering mengunjungi latihan Komando, supaya mengetahui dengan benar kemampuan kesatuan itu, Iapun pernah mengikuti halang rintangan dengan tembakan (stormbaan) bersama Letda Yogie S. Memed yang waktu itu masih ajudan, yang dua puluh tiga tahun kemudian menjadi Komandan di kesatuan ini selama tujuh tahun lebih. ##Dari latihan pertama ini menghasilkan satu Kompi Operasional yang diberi nama Kompi A, dipimpin oleh Kapten Supomo. Kepada mereka yang lulus diberi ijazah, Baret Coklat dan sebuah badge dengan tulisan “Komando” yang dipasang di pundak kiri dan kanan. Tahun 1953 Kompi A disertakan dalam operasi-operasi menghancurkan DI/TII di daerah TT-III/Siliwangi, hasilnya sangat memuaskan terutama pada penyergapan konsentrasi gerombolan di G. Rakutak. ##Kekurangan terutama pada peralatan, seperti tali untuk mendaki gunung batu, alat perhubungan untuk pergerakan regu maupun kelompok kecil. Setelah peralatan bertambah, seperti perahu-perahu karet, maka dilakukan latihan pendaratan yang dipimpin langsung Komandan Kesko Mayor M. Ijon jambi yang pernah punya pengalaman ini. ##Setelah berkembang Kesko TT-III/Siliwangi ini selanjutnya diserah terimakan pada tahun1953 kepada Inspektorat Infanteri AD, namanya berubah menjadi KKAD, sejak itu kesatuan ini dibawah MBAD. Tetapi karena basisnya tetap di Batujajar, jadi bila diperlukan masih bisa mempergunakan kesatuan ini atas seijin MBAD tentunya. Kemudian kesatuan ini terkenal dengan sebutan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), kemudian Kopassandha (Komando Pasukan Sandhi Yudha), kemudian Kopassus (Komando Pasukan Khusus). “MENGEJAR KARTOSUWIRYO” ##Hari paskah kedua 1953, sesudah ikut pertandingan tenis di Bogor, AEK diminta singgah di Pos Komando Cianjur dbp. Mayor Achmad Wiranatakusumah. Dilaporkan di Pagelaran Cianjur Selatan, satu peleton kita dipukul mundur gerombolan DI yang berjumlah 600 orang. DI itu berada di pegunungan, mulai dari pasir Angin sampai Pasir Kuda. ##AEK membuat rencana menarik gerombolan turun ke lembah Pagelaran, esoknya DI akan diserang dari belakang atau dari Cinangka. Daerah itu dikenal betul sewaktu Aksi I, yang ikut adalah Mayor Moersyid, Seksi II/Operasi, Kapten Supomo, Ajudan Letda Yogie S. Memed, sebagian Pasukan Komando dan 2 Peleton Yon 330. Sasaran adalah pimpinan mereka di Pasir Kuda, tetapi sebelum Pasir Kuda terjadi tembak menembak dari pukul 10.00 sampai pukul 15.00, sehingga sasaran yang diinginkan tidak tercapai. ##Dalam kesempatan lain di bulan Oktober 1955, AEK ikut gerakan yang dipimpin oleh Komandan Kompi Lettu Fadilah, yang kelak gugur dalam pertempuran melawan PRRI di Sumbar, Mayor Ijon Jambi juga turut serta. Pada waktu pasukan sudah sampai disuatu tempat yang dikatakan persembunyian Kratosuwiryo, tetapi waktu itu terhalang banjir besar, sehingga tidak bisa mengambil resiko karena beberapa bulan sebelumnya dua anggota Komando hanyut dalam suatu operasi. Maka pasukan menjauh lagi dari Kartosuwiryo yang mungkin diseberang sana. “BERSAMA BUNG KARNO” ##Sebelum menjadi Panglima Siliwangi, AEK baru 5 kali bertemu BK. Pertama kali saat hijrah tahun 1948 dalam sebuah resepsi di Istana Yogya untuk menyambut tokoh dari Indonesia Timur dan Kalimantan yang baru dibebaskan Belanda. Selanjutnya pada tanggal 23 Januari saat menjadi Panglima TT-I/Sumut, ketika BK singgah sebentar di Lapangan Terbang Polonia Medan dalam perjalanan ke India. Lantas ketika BK berkunjung ke Makassar, Menado di akhir bulan Juli 1950 dan di Bali ketika BK bersama Nehru berkunjung kesana saat menjadi Panglima TT-VII/Indonesia Timur. Dan sekali lagi di Istana Jakarta bersama dengan Pimpinan AD dan para Panglima setelah selesai Rapat Panglima di Bandung bulan Maret 1951. ##AEK pernah merasa menjadi anak emas BK, mulai pertemuan Juli 1950 di Makassar, seminggu sesudah pendaratan di Buru, Piru, Amahai. Pada bulan Maret 1951 masih Panglima TT-VII, sesudah Rapat Panglima di Bandung selesai, KSAD dan para Panglima diundang ke Istana Jakarta untuk makan malam sambil menonton film. Waktu film diputar BK mengajak AEK untuk duduk didekatnya, padahal disekelilingnya masih ada perwira yang lebih senior. BK bertanya soal teknis militer sewaktu diputar film “Halls of Montezuma,” yang menceritakan tentang Marinir Amerika melawan Jepang. ##AEK mengemukakan kepada BK, bahwa adegan itu menunjukan teknis militernya benar, tepat, meyakinkan termasuk waktu patroli Tentara Amerika menyeberangi sungai ala “antigerilya.” BK nampak sekali menaruh perhatian besar pada adegan-adegan yang diterangkannya. Jadi Panglima Siliwangi terhitung sebagai Panglima yang dekat dengan Istana, maklum BK sering datang ke Istana Bogor dan Istana Cipanas dan Jakarta juga termasuk daerah TT-III/Siliwangi. ##Bulan Mei 1955, setelah makan siang di Istana Bogor naik mobil Kepresidenan menuju Istana Cipanas, AEK dan BK duduk di belakang, duduk di depan Pak Pringgodigdo disebelah Sopir. Waktu itu mobil Kepresidenan sama sekali tidak dikawal, malahan boleh dikatakan bebas saja hanya berempat yang duduk di dalam mobil. Di jalan menurun Ciloto-Puncak, mobil Presiden selip menabrak tanggul sehingga mogok. Kami bertiga keluar dari mobil dan berdiri di pinggir jalan, sambil menunggu kami berbincang tentang bagusnya pertunjukan “Holiday on Ice” di Gelanggang Tertutup IKADA dan tentang hebatnya Kesebelasan “Locomotiv” dari Rusia, yang hanya sekali kebobolan oleh Pemain Persib, Rukma. ##Menurut AEK, BK paling berjasa dalam cita-cita “Satu Bangsa Indonesia, Satu Bahasa Indonesia.” Sekarang tujuh belas tahun sesudah BK wafat, untuknya masih berlaku “Und wenn ein Stern erlischt, bleibt unser doch sein Leuchten” (“walaupun bintang sudah tiada, tetapi cahayanya masih tetap gemerlapan”), begitu Ernst Krauss dalam buku Anna Pavlova, 1931. “PERISTIWA 17 OKTOBER 1952” ##Sebelum terjadinya peristiwa “17 Oktober,” pagi hari tanggal 16 Oktober 1952, AEK melangsungkan pernikahan di Catatan Sipil (Burgerlijk Stand) Jakarta. Siangnya bersama istri kembali ke Bandung, sebab malam harinya diadakan resepsi pernikahan. ##Esok harinya AEK berangkat ke Jakarta lagi, karena bersama para Panglima akan hadir dalam rapat di SUAD, ada pembicaraan intern AD yang kemudian selanjutnya disebut “Peristiwa 17 Oktober 1952.” Hal itu bermula dengan tindakan Kolonel Bambang Supeno yang telah menulis surat yang copynya dikirimkan kemana-mana, antara lain Parlemen yang didalamnya masih banyak orang BFO, parlemen yang ditunjuk tahun 1949. ##Hal itu dijadikan peluru oleh beberapa anggota parlemen untuk menjelek-jelekan dan menyerang AD, sehingga membuat AD tidak senang terhadap parlemen. Ketika Kolonel Simatupang datang ke Bandung, AEK bertanya kepadanya “mengapa ribut saja di parlemen?” tapi Ia balik bertanya “apakah pernah menghadiri sidang parlemen?.” AEK menjawab “tidak.” Maka Ia melanjutkan “Het lijk of ze allemaal gekken zijn” (“mereka itu semua sudah gila”). ##Tanggal 17 Oktober 1952 pagi diadakan Rapat di SUAD yang dihadiri semua Panglima kecuali Panglima TT-VI Kolonel Sadikin sakit dan diwakili oleh Letkol Gani. Rapat memutuskan akan pergi ke Istana menghadap Presiden untuk menyampaikan isi hati kami seperti yang sudah dituangkan dalam sebuah pernyataan. Saat Rapat datanglah KSAP Kolonel Simatupang, menasihati agar tetap tenang dan hendaknya bertemu dulu dengan Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX, meminta izinnya untuk bertemu dengan Presiden. Ia juga mengingatkan “Stop. Dit ruikt al naar een Coup. Kritiek, ok maar geen coup” (S”top. Ini sudah berbau sebuah kup. Kritik, ok, tetapi jangan kup”). ##Sementara diluar rupanya ada demonstrasi yang bergerak ke Gedung Parlemen terus ke Istana Merdeka, yang menuntut “bubarkan parlemen.” Ketika demonstran berkumpul di depan Istana Merdeka, Presiden menanggapinya “bahwa beliau secara tegas tidak ingin jadi diktator, akan menyerahkan soal itu ke Kabinet yang bertanggung jawab dan menjanjikan pemilu akan diadakan selekasnya.” Selesai Presiden berpidato, demonstran membubarkan diri sambil berteriak dan membawa poster bertuliskan “Hidup Bung Karno,” “Berantas Korupsi,” “Mana Beras?.” Sementara itu di depan Istana ada merim-meriam yang diarahkan kedepan Istana. ##Kami menghadap Presiden, terdiri dari Kolonel Nasution, Kolonel Simbolon, Letkol Kosasih, Letkol Bachrum, Letkol Suwondo, Letkol Gani, Letkol Sutoko, Letkol Sukanda, Letkol Suprapto, Letkol Suryo Suyarso, Letkol S. Parman, Letkol Askari, Letkol Azis Saleh, Letkol Sumantri dan AEK. Kemudian datang Kolonel Simatupang, Kolonel Jatikusumo dan Letkol Daan Yahya. Hadir juga Wakil Presiden Hatta dan Perdana Menteri Wilopo, Menteri Pertahan Sultan Hamengkubuwono IX tidak nampak. ##KSAD Kolonel Nasution menjelaskan maksud kedatangan para perwira ini adalah untuk menyampaikan isi hati kami sebagai Alat Negara yang menghadapi kesukaran dalam melaksanakan tugasnya. Selanjutnya Letkol Sutoko yang disepakati menjadi juru bicara, berbicara merendah, terlebih dahulu minta izin untuk berbicara sebagai Anak terhadap Bapak. Yang disampaikannya adalah kenyataan, bahwa umur pemerintah pada umumnya hanya 6 sampai 8 bulan saja, sehingga tidak ada satu kabinetpun yang dapat melaksanakan programnya. Pokok kesulitan yang dihadapi setiap Kabinet adalah DPRS (Dewan Perwakilan Rakyat Sementara). Dua pertiga anggota DPRS terdiri dari orang-orang Negara bagian buatan Van Mook, jadi kami anggap bahaya bagi Negara yang masih muda seperti Republik kita, apabila tidak ada stabilitas politik dalam negeri. Keadaan partai dewasa itu salah satu yang menyebabkan labilnya politik di dalam negeri. ##Maka dimohonkan agar Presiden sebagai Panglima Tertinggi dapat mengakhiri cara bekerja parlemen seperti itu dan membentuk DPR yang baru sesuai kehendak rakyat dalam waktu singkat. Juga disinggung tentang mosi yang menurut pendapat kami telah memasuki lapangan eksekutif dan ini membahayakan Angkatan Perang kita. Kemudian Sutoko menyampaikan “Pernyataan Pimpinan AD” yang tertulis sebagai hasil Rapat SUAD dengan para Panglima Teritorium yang dilaksanakan pada tanggal 16 dan 17 Oktober 1952, ditandatangani oleh 16 orang perwira, termasuk Kolonel Gatot Subroto yang tidak hadir dalam pertemuan dengan Presiden. ##Presiden angkat bicara, bahwa beliau memaklumi kesukaran yang dihadapi kami, memperingatkan supaya tentara tidak terombang-ambing politik, seperti yang dikatakan kepada demonstran berlaku pula untuk saudara-saudara. Sebagai Panglima Tertinggi memerintahkan kepada saudara tetap menjaga ketentraman umum. Dikemukakannya agar “Pernyataan Pimpinan AD” juga diumumkan. Presiden menjanjikan akan membicarakannya dengan pemerintah dan selekasnya akan diadakan Pemilu. ##Setelah peristiwa “17 Oktober” 1952 itu ekornya panjang, Kolonel Nasution diberhentikan sebagai KSAD, yang dianggap memimpin percobaan “Setengah Kup,” digantikan Kolonel Bambang Sugeng. Kemudian terrjadi semacam perpecahan dalam tubuh AD, terjadi pendaulatan Panglima Teritorium, II, V dan VII, yang mendaulat mengatakan yang bersangkutan pro 17 Oktober. AEK mendengar beberapa partai politik menginginkan terjadinya pendaulatan atas dirinya, tapi tidak terjadi, sejak itu Ia merasakan tidak lagi menjadi “anak emas BK.” Dan AEK tetap harus menghadapi kekacauan yang dilakukan gerombolan DI-TII, tetapi yang menjengkelkannya adalah adanya tekanan-tekanan politik terhadap kami. Peristiwa ini kemudian diceritakan BK dalam bukunya “Bung karno, Penyambung Lidah Rakyat-Cindy Adams mengenai peristiwa “17 Oktober 1952.” “DIPERIKSA SOAL KE SINGAPURA” ##Setelah kunjungan Kolonel Mander, Kepala Intelligence dari Far Eastern Land Force yang berpusat di Singapura pada bulan Mei 1954 ke Bandung, kemudian kunjungan Letjen Loewen, Commander in Chief of Far Eastern Land-Forces pada bulan Juni 1954. Waktu cuti, AEK melakukan kunjungan balasan ke Singapura untuk melihat latihan Pasukan Gurkha dan mengunjungi daerah yang rawan yaitu di Kuantan Malaya. Di Singapura ia bertemu dengan Barkah, Ajudan AEK ketika Aksi I menjadi Atase Militer disana. Namun sepulangnya dari Singapura, AEK harus menghadap Menteri Pertahanan Iwa Kusumasumantri untuk diperiksa. Karena ada pertanyaan di parlemen, “Kawilarang sedang berbuat apa di Singapura?, kalau menyelundupkan emas atau candu, supaya tembak mati ditempat!. ” ##Selama pemeriksaan Menteri Pertahanan diam saja, semua pertanyaan mengenai cuti yang baru Ia lakukan diajukan Kolonel Hidayat yang waktu itu menjabat sebagai Sekjen, AEK merasa didesak-desak dengan pertanyaan, dipojokan, terasa sekali Menteri mencar-cari kesalahannya. AEK sungguh tak enak Kolonel Hidayat ada dihadapannya, rupanya ia melihat wajah AEK mulai marah, Iapun berkedip hingga AEK mengerti rupanya Ia sedang bersandiwara. Dan setelah pemeriksaan itu AEK tidak merasa digeser dari jabatan setelahnya. “MENJAGA KEAMANAN KONFRENSI AA” ##Menjelang Konfrensi Asia Afrika pada bulan April 1955, AEK sibuk menjaga keamanannya, terdapat tanda-tanda adanya usaha DI untuk mengadakan pengacauan. AEK khawatir DI akan mengacau di Bandung, sehingga dikerahkan semua kekuatan yang ada. Mayor Kosasih Ardiwinata yang memimpin Seksi I mengkoordinasi kekuatan-kekuatan kita, Ia betul-betul berjasa waktu Konfrensi AA. ##Ternyata tidak pernah terjadi orang dihadang di jalan raya. DI bisa saja mengadakan penghadangan di jalan raya waktu itu, tetapi kenyataannya tidak pernah terjadi, padahal gerombolan ada disekitar Cianjur dan Cipanas. Sehingga seluruh acara Konfrensi AA berjalan sesuai rencana dan keadaan Bandung-Jakarta dan sekitarnya tetap aman. (PASCA PERISTIWA 17 OKTOBER 1952) ##Sementara itu para senior AD berusaha mencari jalan mempertemukan pemikiran yang pro dan anti “17 Oktober.” Pada minggu ketiga Februari 1955 diselenggarakan Rapat Para Perwira AD bertempat di Istana Negara Jogyakarta, yang menghasilkan “Piagam Keutuhan Angkatan Darat RI” atau yang lebih dikenal dengan “Piagam Jogyakarta.” Piagam itu ditandatangani oleh 29 orang tokoh AD serta disaksikan KSAL dan KSAU. Mayjen Bambang Sugeng yang memimpin Rapat Para Perwira itu menyampaikan naskah itu kepada semua pihak yang patut menerima, terutama Presiden, Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan. ##AEK merasakan persatuan diantara perwira AD telah kembali utuh, KSAD Bambang Sugeng terus mendesak pemerintah untuk menyelesaikan persoalan AD berdasarkan “Piagam Jogyakarta,” di pertengahan bulan Mei 1955 Bambang Sugeng mengajukan permohonan mengundurkan diri kesekian kalinya secara tertulis, kali ini Kabinet menyetujuinya. ##Kemudian cerita menyedihkan terjadi kembali, dengan pengangkatan Kolonel Bambang Utoyo sebagai KSAD, pangkatnya dinaikan pula menjadi Mayjen. Riuh lagi diantara perwira, diakibatkan ulah politisi yang tidak mengenal keadaan di dalam AD. Upacara pelantikannya Bambang Utoyo sebagai KSAD diboikot akibatnya WKSAD Kolonel Zulkifli Lubis diskorsing pemerintah. Lalu diadakan Rapat Pimpinan AD bersama semua Panglima, salah satu keputusan penting adalah menolak skorsing Zulkifli Lubis. Kemudian pendekatan kepada Bambang Utoyo dilakukan, hasilnya yang bersangkutam bersedia mengundurkan diri asal dengan hormat. ##Zulkifli Lubis membentuk tim yang terdiri dari 6 Kolonel dan Letkol, untuk memecahkan persoalan dan memutuskan supaya Mayjen Bambang Utoyo mengundurkan diri sebagai KSAD, agar Pemerintah memberhentikan dengan hormat Mayjen bambang Utoyo dari jabatannya sebagai KSAD. PM Ali Sastroamidjojo ngotot dan mendesak supaya diuji, AD resmi menolak tawaran Pemerintah, sementara Pemerintah membatalkan skorsing Zulkifli Lubis. Akhirnya PM Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri, sebelumnya Menteri Pertahanan Iwa Kusumasumantri juga mengundurkan diri. ##Maka munculah persoalan siapa yang akan menggantikan Bambang Utoyo sebagai KSAD, di bulan Oktober 1955 MBAD mengajukan 5 calon KSAD yaitu Kolonel Simbolon, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Kawilarang, Kolonel Jatikusumo dan Kolonel Nasution. Lalu Presiden memanggil Nasution yang diangkat sebagai KSAD yang baru atau untuk kedua kalinya, diumumkan Perdana Menteri tanggal 28 Oktober 1955 dengan kenaikan pangkat Mayjen. “INGIN BELAJAR LAGI” ##Barangkali AEK sudah merasa lelah, jenuh, bosan. Mengutarakan keinginannya kepada KSAD untuk belajar, dan bila ada kesempatan belajarnya keluar negeri. Tawaran diberikan kepadanya untuk menjadi Atase Militer, kemudian AEK ditempatkan sebagai Atase Militer di Washington DC, Amerika Serikat. ##Maka pada tanggal 14 Agustus 1956 dilaksanakan timbang terima Panglima Siliwangi dari AEK Panglima Siliwangi kelima kepada Kolonel Suprayogi sebagai Panglima Siliwangi keenam. Menurut AEK “Siliwangi meninggalkan kesan yang mendalam kepada saya, seperti juga Panglima-Panglima sebelum dan sesudah saya.” Maka waktu saya diminta untuk menulis “kata-kata mutiara” buat majalah “Simpai Siliwangi,” saya menulis seperti yang saya baca dalam majalah Time terbitan Desember 1955, yang kiranya berlaku untuk perwira, bintara dan tamtama : “It is the destiny of professional soldier to wait in obscurity, most of his life, for a crisis that may never come. It is his function to know how to solve it if it doescome. It is his code to give all he has” (“Adalah nasib prajurit professional untuk menanti, sebagian besar hidupnya dalam keadaan tidak pasti, datangnya krisis yang mungkin tidak pernah terjadi. Adalah tugasnya untuk mengetahui bagaimana mengatasinya, bila hal itu terjadi. Adalah kewajibannya untuk mengorbankan segala sesuatu yang ada padanya”). ##September 1956 AEK berangkat ke Washington DC, Amerika Serikat, Sebagai Atase Militer. Duta Besar disana waktu itu Pak Mukarto. Tugasnya adalah antara lain mengurusi perwira-perwira kita dari AD dan AL yang belajar di tempat-tempat pendidikan di Amerika Serikat, tempat pendidikan AD Amerika Serikat disebut Fort, seperti Fort Benning, Fort Leavenworth, dll. AEK sering mengunjungi tempat-tempat itu berjumpa dengan perwira-perwira kita disana, dengan Kepala Pendidikan maupun para Instrukturnya. ##AEK dibantu oleh teman-teman seperti Letkol Ashari Danudirdjo, Letkol Subroto Kusmardjo dan Kapten Ragowo sebagai Asisten Atase, mereka semua baik sekali dalam tugasnya masing-masing, sangat memuaskan dalam kerjasama. ##Belum lama AEK bertugas di Washington, terjadi perang “100 jam” di Timur Tengah, Mesir diserang Pasukan Israel, Inggeris dan Perancis. Indonesia bersama Negara lain mengirim Pasukan ke Sinai sebagai bagian dari Pasukan UNEF (United Nations Emergency Force). Komandannya Letjen Burns dari Kanada, Wakilnya Brigjen Martola dari Finlandia. AEK pernah Rapat di Kantor PBB yang dipimpin Ralph Bunce, Brigjen Martola hadir. Walaupun Rapat Militer tetapi lebih merupakan Rapat Diplomat, karena Brigjen Martola harus mencapai konsensus dari semua negara. Ada disinggung kalau terjadi penggantian Komandan salah satu Pasukan dari UNEF agar sebelumnya memberitahukan kepada Komandan UNEF. AEK malu rupanya ada penggantian Komandan Pasukan Indonesia tanpa memberitahukan kepada Letjen Burns maupun Stafnya. Peristiwa penting lainnya adalah Tank-Tank Rusia menyerbu Hongaria. Peristiwa Timur Tengah maupun Hongaria ini untuk AEK penting, karena dapat mempelajari cara bagaimana Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dalam waktu singkat dapat disiap-siagakan. (SITUASI DI INDONESIA TAHUN 1957) ##Sementara itu di Indonesia di tahun 1957 terjadi beberapa peristiwa mengkhawatirkan, terjadi rasa kurang puas dari daerah-daerah terhadap Pemerintah RI Pusat di Jakarta. Penyebabnya adalah : Makin meningkatnya gejolak politik, rasa tidak percaya terhadap Pemerintah Pusat atas kebijakan pembangunan nasional maupun daerah, tidak mencerminkan pemerataan/keadilan, usaha-usaha tersamar PKI memperkuat posisi dan peranan dalam tubuh Pemerintah Pusat dan pertentangan/perpecahan dalam Konstituante yang menjurus ke jalan buntu. ##Perkembangan situasi politik dan rasa kurang puas daerah-daerah sampai pada terbentuknya dewan-dewan seperti Dewan Gajah di Sumut, Dewan Banteng di Sumbar, Dewan Garuda di Sumsel, Dewan Mangkurat di Kalsel, Front Pemuda Sunda di jabar dan Permesta di Indonesia Timur (pada tanggal 2 Maret 1957) yang lambat laun hanya di Sulut. ##Dewan-Dewan ini umumnya dipimpin Panglima-Panglima setempat, mengajukan berbagai tuntutan : (a) Pemulihan kembali Dwi Tunggal Soekarno-Hatta. (b) Pelaksanaan Pembangunan Nasional. (c) Perubahan Pimpinan AD. (d) Larangan Komunisme. PM Djuanda waktu itu berusaha mengatasi kemelut itu dengan menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) dan mengundang semua potensi/kekuatan sosial politik, baik di pusat maupun daerah, termasuk tokoh-tokoh daerah bergolak. ##Munas berlansung tanggal 10 s/d 15 September 1957, mengagendakan 4 pokok tersebut diatas tetapi yang dibahas hanya 3 agenda, karena BK tidak setuju membahas pelarangan komunisme. Munas memutuskan pembentukan “Panita 9” terdiri dari unsur-unsur Pemerintah dan DPR, yang kemudian mengeluarkan keputusan : (a) Dwi tunggal setuju dipulihkan kembali. (b) Mengenai pembangunan akan segera dilaksanakan Munas Pembangunan (Munap). (c) Masalah AD akan ditangani oleh “Panitia 7” yang beranggotakan BK , Hatta, Djuanda, Leimena, Hamengkubuwono IX, Azis Saleh dan Nasution. ##”Panitia 7” memutuskan : (a) Amnesti bagi Perwira-Perwira yang memimpin di daerah bergolak. (b) Perwira-Perwira yang ingin berpolitik agar meninggalkan AD. (c) Dibentuk Dewan Militer untuk menangani masalah AD, yang terdiri dari : 1) Unsur Pimpinan AD. 2) Unsur Perwira Pimpinan daerah bergolak. Tapi keputusan pembentukan Dewan Militer tidak pernah terealisasi karena Pimpinan AD tidak setuju. Yang disetujui adalah pembentukan “Fact Finding Committee,” beranggotakan Sudirman, Mokoginta dan Muskita. ##Dalam situasi seperti itu, ketika Munap berlangsung, tanggal 30 November 1957 timbul “Peristiwa Cikini,” penggeranatan di Sekolah Cikini untuk membunuh BK. Nasution menuduh Zulkifli Lubis sebagai dalang peristiwa itu, KMKB Jakarta Raya melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh militer maupun sipil yang dicurigai. Pemerintah Pusat juga membekukan semua keputusan Munas, situasi menjadi tegang dan banyak pihak yang merasa terancam akan ditangkap, menghilang dari Jakarta lari ke tempat aman di daerah atau ke luar negeri. ##Sebenarnya tidak ada kaitan “Peristiwa Cikini” dan hasil Munas, pelaku-pelakunya juga dapat ditangkap dan diadili, mereka tidak ada hubungannya dengan Zulkifli Lubis atau daerah bergolak. Keputusan Munas diabaikan Pemerintah Pusat dengan alasan “Peristiwa Cikini,” yang dipersalahkan daerah-daerah. ##Pemerintah Pusat juga menghentikan penerbangan GIA dan pelayaran ke Sulut dan Sumbar. Daerah bergolak dalam rangka menghadapi tindakan Pemerintah Pusat, melakukan konsultasi dan konsolidasi antara lain : 1. Pertemuan Dareh di Sumbar akhir Desember 1957, membahas mengatasi suplai berhubung politik isolasi Pemerintah Pusat, tidak dibicarakan Pemerintahan Tandingan, yang dibicarakan Dewan Revolusioner sehubungan dengan penangkapan-penangkapan di Jakarta. 2. 10 Februari 1958 di Padang dikeluarkan “Piagam Perjuangan Untuk Menyelamatkan Negara,” yang merupakan ultimatum agar Dwi Tunggal segera dipulihkan dan Kabinet Djuanda mundur. ##Sebelum ultimatum habis, tanggal 12 Februari 1958 Padang dibom AURI. Dan tanggal 15 Februari 1958 di Padang diproklamasikan berdirinya PRRI sebagai Pemerintah Tandingan terhadap Pemerintah Pusat. Tanggal 17 Februari 1958 di Manado, Permesta menyatakan solider dengan PRRI dan tidak lama kemudian Manado dibom. (DEBURAN HATI YANG SAYA IKUTI) ##AEK menyimpulkan kejadian-kejadian tahun 1957 dan permulaan 1958 adalah : 1. Prakarsa PM Djuanda menyelenggarakan Munas sebenarnya merupakan pembuka jalan kearah penyelesaian kemelut politi nasional. 2. Prakarsa itu gagal karena kurang akomodatifnya Pimpinan AD, seperti keengganannya merealisasikan keputusan “Panitia 7” mengenai “Dewan Militer,” serta penangkapan-penangkapan orang dari pihak daerah bergolak dengan dalih “Peristiwa Cikini.” 3. Akibatnya meningkatkan ketegangan situasi politik yang berujung timbulnya PRRI dan Permesta. ## Bulan Maret 1958, AEK menghadap Dubes Mukarto, mengatakan akan ke Sulut dan sebelumnya mengirimkan kawat ke KSAD, mengabarkan meletakan jabatan berhubung tidak setuju tindakan Pemerintah Pusat. Tinggalkan Washington DC, meninggalkan kehidupan aman dan tenang menuju kehidupan serba gelap dan tak menentu. Untuk daerah memang nasi sudah menjadi bubur, “deburan hati pula yang saya ikuti.” Tiga tahun lebih konflik bersenjata yang berakhir dengan Permesta kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. AEK menganggap kehidupannya sebagai tentara berakhir di tahun 1958. Kembali Ke Jakarta melihat hari depannya sangat gelap begitu juga bagi Indonesia sangat gelap. Barulah setelah peristiwa Oktober 1965, AEK dan teman-teman bisa bernapas lega dan kehidupan menjadi lebih terang. Di tahun 1966 ada seorang Wartawan bertanya “Apakah sudah direhabilitasi?,” AEK menjawab “Siapa yang harus merehabilitasi siapa?.” ***** ##BUKU INI SARAT DENGAN PENGALAMAN SEORANG MILITER PROFESIONAL YANG MENGISAHKAN PERJALANAN PENGABDIANNYA DI BIDANG MILITER YANG SANGAT IA CINTAI, SEJAK KECIL IA TELAH BERCITA-CITA INGIN MENJADI MILITER, MEMBACA BUKU MILITERPUN SUDAH IA LAKUKAN SEJAK USIA 12 TAHUN. SELEPAS HBS IA MASUK PENDIDIKAN CORO DILANJUTKAN KE KMA SAMPAI LULUS DAN BERTUGAS MENJADI TENTARA KNIL SEBENTAR SEBELUM JEPANG MASUK. SELAMA JAMAN JEPANG TUMBUH RASA NASIONALISMENYA. SETELAH PROKLAMASI KEMERDEKAAN IA TIDAK RAGU MEMILIH MERAH PUTIH, MASUK MENJADI TENTARA REPUBLIK INDONESIA, BERJUANG MENGANGKAT SENJATA DALAM PERANG KEMERDEKAAN MELAWAN BELANDA. IA TIDAK PERNAH PUTUS MENDAPATKAN PENUGASAN MEMIMPIN PASUKAN SEJAK TAHUN 1946 S/D 1956. MULAI MENJADI KEPALA STAF RESIMEN, KOMANDAN RESIMEN, KOMANDAN BRIGADE DIVISI SILIWANGI. KOMANDAN SUB TERITORIUM DAN KOMANDAN TERITORIUM DI SUMATERA TIMUR/UTARA. KOMANDAN EKSPEDISI INDONESIA TIMUR DAN PANGLIMA TT-VII/INDONESIA TIMUR. PANGLIMA TT-III/SILIWANGI. ILMU MILITER DAN PENGALAMAN MEMIMPIN OPERASI MILITER YANG DIMILIKINYA SUNGGUH LUAR BIASA, BEGITU JUGA KEPERIBADIAN DAN KEPEMIMPINANNYA BENAR-BENAR MENUNJUKAN SEORANG PRAJURIT TULEN SAMPAI KETULANG SUMSUMNYA. JADI BUKU INI PATUT DIBACA PEMINAT BUKU TERUTAMA DARI KALANGAN TNI UNTUK MENARIK PELAJARAN DARINYA.***** (MOHAMAD ACHWANI).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar